Ilham Saputra, Keliling Indonesia dengan Vespa Klasik

Jakarta – Selama hampir empat tahun, Ilham Saputra mengelilingi 31 provinsi di Indonesia dengan Vespa Klasik yang telah dimodifikasi. Sepanjang perjalanan dengan kecepatan 60 km/jam, Ilham menghabiskan 40-an ban bekas dan empat kampas kopling. Bagaimana kisahnya?

Tak ada persiapan khusus yang dilakukan Ilham untuk menjelajahi jalanan yang terjal dan tentu penuh risiko. Pemuda berusia 22 tahun ini hanya bermodal keyakinan dan keinginannya mengenal Indonesia lebih dekat.

“Persiapannya ya biasa saja, nggak ada ada persiapan khusus. Karena saya memang hobi modifikasi Vespa-Vespa bekas termasuk yang sudah hancur,” ungkap Ilham Saputra ketika ditemui di Kantor Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid), Semarang.

“Untuk biaya modifikasi dari modal pribadi dari hasil usaha di bengkel, jadi sopir dan lain sebagainya,” sebut dia tanpa menyebutkan jumlah nominal yang dihabiskan untuk memodifikasi Vespa.

Baca Juga : Lebih Mengenal Bangsa Kita, Dengan Naik Sepeda Motor Keliling Indonesia

Pemuda asal Cacangranda, Tiku Utara, Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Padang, Sumatera Barat ini menceritakan bahwa perjalanan mengelilingi Indonesia diawali dari Kilometer Nol di Sabang, Aceh pada September 2011.

Banyak kisah menarik saat mengarungi perjalanan di Kota Serambi Aceh. Ilham terpaksa harus melintasi daerah konflik, yang saat itu masih terdapat basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Selama perjalanan dia pun mendapatkan pengawalan dari komunitas klub asal Aceh yang lebih memahami medan.

“Atas saran teman-teman klub, saya melakukan perjalanan pada malam hari selama melintasi kawasan rawan konflik. Karena kalau jalan malam hari dinilai lebih aman,” ujarnya.

Dari Aceh, Ilham kembali menyisir jalanan di Kota Padang. Tak banyak kisah menarik di tempat kelahirannya ini. Karena itu, dia tak terlalu berlama-lama mengelilingi Padang.

Perjalanan dilanjutkan menuju Medan, Sumatera Utara. Dari Medan, Ilham langsung menyeberang ke Pulau Jawa, setelah melewati Lampung.

Selama mengelilingi kota-kota di Pulau Jawa dari Jawa Barat hingga Jawa Timur, tak sedikit jalanan menanjak dan terjal yang dilaluinya. Tak sedikit pula dia harus dibantu sesama klub Vespa mendorong motor modifikasi berukuran empat meter itu saat melintasi jalan tanjakan.
“Saat menanjak, motor jelas nggak kuat. Karena itu dibantu teman-teman mendorongnya,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Meski demikian, Ilham merasa sedikit terhibur karena berkesempatan mengunjungi objek-objek wisata di Pulau Jawa.

Dari Jawa, Ilham melanjutkan perjalananan menuju Bali dan Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT). Ada kejadian yang cukup tak mengenakkan saat dia menyisiri jalanan menanjak di kawasan Larantuka, Flores. Perjalanannya sempat dicegat sejumlah pemabuk.

“Saat di Larantuka ada sejumlah pemuda yang mabuk menghadang saya di jalan. Ya daripada berurusan panjang, saya kasih uang Rp30 ribu. Akhirnya bisa melanjutkan perjalanan,” ucap pemuda kelahiran 30 September 1992 ini.

Yang menarik, setelah dari Flores, Ilham sempat menginjakkan kaki di Timor Leste selama tiga jam.

“Di Timor Leste cuma tiga jam. Itu pun nggak terlalu masuk ke dalam kotanya, hanya di pinggiran dan sempat ngobrol dengan warga Timor Leste yang masih bisa berbahasa Indonesia,” ucapnya.

Baca Juga : Naik Vespa, Bu Guru Rucke Rukmawati Mampu Keliling Indonesia

Kisah yang tak kalah menarik saat perjalanan memasuki Sulawesi, tepatnya di Kota Manado. Di Ibu Kota Sulawesi Utara ini, Ilham sempat terlibat cinta lokasi dengan seorang gadis.

“Sempat kenalan dengan cewek Manado yang jualan di sebuah rumah makan,” ungkap Ilham sambil tersenyum.

Namun, menurutnya, kisah cinta lokasi itu hanya berumur dua minggu. Ilham pun melanjutkan kembali perjalanan menuju kampung halamannya, Padang.

Menuju Padang, Ilham kembali melewati Pulau Jawa. Kemarin, Ilham singgah di Kantor Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) di Jalan Berlian, Perumahan Intan, Semarang, Jawa Tengah.

Atas aksi uniknya dengan mengelilingi 31 Provinsi selama tiga tahun, Ilham Saputra mendapatkan piagam penghargaan dan medali dari Leprid.

Ilham Saputra, Keliling Indonesia dengan Vespa Bekas

Menurut Direktur Leprid Paulus Pangka, penghargaan dan medali diberikan kepada Ilham Saputra atas rekor mengelilingi Indonesia di 31 Provinsi dengan menggunakan satu unit scooter merek Vespa modifikasi nopol BA 7104 FL sejak 24 September 2011 (Sabang) hingga 8 Juli 2015 (Semarang).

“Inspirasi dia (Ilham Saputra) di setiap daerah yang dilewatinya menunjukkan harapan bahwa NKRI terdiri dari beragam suku, adat, dan budaya. Apaladi dia mau membuat buku kisah perjalanannya. Itu yang perlu diapresiasi,” kata Paulus Pangka.

Naik Vespa, Bu Guru Rucke Rukmawati Mampu Keliling Indonesia

Kalau rencana ke Papua setelah Lebaran kelak terlaksana, Rucke Rukmawati berarti telah bervespa ke wilayah ujung barat dan timur Indonesia. Tiap kali tur selalu bawa donasi atau barang yang bermanfaat bagi warga di tempat tujuan.

HARI – HARI ini hingga ke Lebaran nanti adalah hari-hari yang sibuk bagi Rucke Rukmawati. Berkeliling mengumpulkan donasi, menyetel Vespa, dan menyiapkan onderdil, selain tentu saja jadwal tetapnya mengajar.

Maklum, selepas Lebaran, bersama suami, Cakra Budi, guru seni rupa SMAN 15 Bandung itu bakal mewujudkan impian touring ke Papua. “Mudah-mudahan bisa terlaksana,” kata perempuan 57 tahun tersebut kepada Jawa Pos yang menemuinya di kediamannya di Bandung Senin lalu (30/4).

Kalau betul terlaksana, artinya, perempuan 57 tahun itu sudah menjelajah wilayah paling barat dan ujung timur Indonesia. Sebab, 18 tahun silam, dia sudah lebih dulu touring ke Aceh pada Desember 2017.

Dan, di antara kurun waktu itu, dia juga menjelajah berbagai kota di Jawa dan Sumatera. Semua dengan motor.

Baca Juga : Lebih Mengenal Bangsa Kita, Dengan Naik Sepeda Motor Keliling Indonesia

“Semua jenis motor sudah saya coba. Kami sekeluarga memang suka naik motor dari dulu,” kata ibu dua anak yang akrab disapa Mabu (Mamah Ibu) tersebut.

Bisa jadi Mabu adalah satu-satunya ibu guru di tanah air dengan hobi “seekstrem” itu. Di usia yang juga sudah tidak lagi muda.

Tapi, touring mengendarai motor memang sudah mendarah daging baginya. Telah dilakukannya jauh sebelum menikah. Sampai dia lupa kapan persisnya tur pertamanya.

Padahal, jadwalnya sebagai guru juga padat. Di rumahnya pada Senin siang lalu itu, misalnya, Mabu tengah menyortir puluhan lukisan hasil karya siswa untuk dipamerkan Itu bagian dari tugasnya sebagai guru seni rupa. Selain tentu saja kewajiban harus mengajar di kelas.

Karena itulah, touring biasa dia lakukan hanya saat libur panjang. Agar tak sampai meninggalkan kewajiban mengajar. “Kalau pas nggak libur panjang, paling hanya keliling kota atau tempat yang dekat-dekat saja.”

Di pelataran rumah yang asri di kawasan Buah Batu, Bandung, itu tampak pula 12 Vespa berjejer. Seluruhnya milik Mabu seke­luarga. Dari yang paling tua keluaran 1961 sampai yang terbaru rilisan tahun lalu.

Sejak sepuluh tahun lalu, untuk urusan motor, Mabu dan suami memang tak bisa berpaling ke lain hati. Hanya Vespa. Yang kemudian menular kepada kedua anak lelakinya. Tapi, kecintaan kepada Vespa itu tidak datang tiba-tiba. Bahkan, Mabu sempat melarang ketika suaminya berniat membeli Vespa.

“Pas pertama beli, suaranya kencang bener, terus asap knalpotnya tebel bener. Olinya netes ke mana-mana,” ungkapnya.

Mabu pun sempat meminta sang suami menjualnya kembali. Tapi, sang suami memutuskan membawanya ke bengkel. Dan, voila, sebulan kemudian, Mabu justru jatuh hati kepada si Vespa yang catnya telah berganti jadi ungu.

“Jadi bagus dan enak dikendarai. Karena warnanya ungu, akhirnya dipanggil unyu,” katanya, lantas tersenyum.

Saat berkeliling Aceh pada Desember tahun lalu sendirian, Vespa pula yang dikendarai Mabu. Persisnya jenis VBB 1964. “Pas sebelumnya ada gempa di daerah Pidie. Jadi, bawa sedikit bantuan ke sana,” terang dia.

Baca Juga : Ini Masukan Agar Traveler Bisa Keliling Indonesia Naik Mobil

Itulah salah satu alasan yang membuat Mabu doyan touring: kesempatan untuk berbagi atau menebar kebaikan. Ke mana pun dia tur, baik sendiri, dengan suami dan anak, maupun dengan komunitas Vespa, sebisanya dia membawa apa saja yang mungkin berguna di daerah tujuan.

“Minimal saya bawa mukena yang biasanya, lantas saya tinggal di masjid yang saya sambangi,” katanya.

Karena itulah, sebelum keberangkatan ke Papua setelah Lebaran nanti, dia giat mengumpulkan donasi. Terutama berupa seragam dan peralatan sekolah.

“Apa saja yang mungkin bermanfaat bagi daerah-daerah yang saya singgahi bersama suami nanti,” katanya.

Kecintaannya kepada touring dengan bersepeda motor tumbuh karena sejak kecil dia menyukai kegiatan luar ruang. Apa­lagi, setelah menikah, sang suami mendukung penuh kegiatannya tersebut.

Menurut dia, bersepeda motor membuatnya bisa menikmati pemandangan secara bebas. “Indonesia ini banyak sekali tempat indah yang bisa dinikmati sambil melakukan hal positif di tempat tersebut,” katanya.

Tempat mana yang paling mengesankan? “Semua,” katanya. Meski kadang menemui pengalaman yang menurut banyak orang mungkin menakutkan.

Di Mesuji, Lampung, misalnya. Suatu hari saat singgah di sana, Mabu harus mendinginkan motor yang biasanya butuh waktu dua-tiga jam.

Berhentilah dia di jalan yang sepi. Hanya satu dua mobil yang melintas. Mendadak ada seorang pria mendekat sembari membawa celurit.

Karena tak curiga, Mabu yang bepergian sendirian terus saja asyik memotret sekitarnya. Pria tersebut terus saja bolak-balik. “Ya, saya sapa. Dia juga balik menegur dengan pandangan yang terlihat aneh. Tapi, kemudian dia berlalu,” kenangnya.

Ketika dia kemudian menceritakan pengalaman tersebut kepada kawan-kawan sekomunitasnya, Mabu baru sadar bahwa kawasan tempat dia berhenti itu rawan begal. “Tapi, saya dari awal memang nggak ada pikiran curiga,” katanya.

Sesekali dia juga mengalami masalah dengan VBB 1964-nya. Namun, selalu ada saja kawan-kawan dari komunitas Vespa di kota yang disinggahi yang mengulurkan tangan untuk membantu.

Agar lebih siap menghadapi masalah dengan motor kesayangannya, Mabu pun perlahan belajar mengenai Vespa. Selama ini dia langsung belajar dari ahlinya, yaitu montir yang biasa dia panggil ke rumah.

“Awalnya bantuin montir. Sekarang montir datang, yang perbaikin saya hehehe.”

Di usia yang tak lama lagi mencapai kepala enam, Mabu mengaku tak tahu sampai kapan akan terus touring. Yang pasti, selama masih kuat, dia akan tetap melakukannya.

“Mudah-mudahan juga masih bisa terus keliling Indonesia pakai Vespa,” harapnya.

Lebih Mengenal Bangsa Kita, Dengan Naik Sepeda Motor Keliling Indonesia

Ahmad Yunus, jurnalis sekaligus petualang yang dulu menghebohkan lewat ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, mengisahkan ulang pada kami persiapannya keliling 100 pulau selama delapan bulan di atas roda dua.

Ahmad Yunus punya cara jitu menunjukkan kecintaannya pada Tanah Air. Bersama jurnalis senior Farid Gaban, Yunus muda— sepuluh tahun lalu—mencoba menjelajahi gugusan pulau-pulau terluar di Kepulauan Nusantara untuk mencari kisah tentang manusia-manusia biasa yang hidup di nusantara.

Orang-orang biasa adalah sebuah kontra narasi yang ingin Ia suguhkan di tengah kejengahan dan hiruk pikuk Pemilihan Presiden sepuluh tahun lalu. Tulisan Yunus yang dibukukan dengan judul Meraba Indonesia berhasil menjadi “kitab” sekaligus petunjuk, bagi pemuda yang terobsesi menjelajahi Indonesia pada masanya. Ekspedisi Yunus dan Farid juga menuai perhatian media massa, sampai akhirnya mereka berdua diganjar penghargaan Anugrah Tirto Adhi Soerjo atas sumbangsih liputan mereka dalam memajukan jurnalisme naratif di Tanah Air.

Baca Juga : Keliling Nusantara Tak Sekadar Mimpi!!!

Dengan motor 100 cc yang dimodifikasi alakadarnya, Yunus mesti menerobos jalan berbatu pesisir barat Sumatera, melewati jalanan gelap gulita Pegunungan Leuser, membelah jalur lintas Kalimantan yang tak pernah dilewati motor sebelumnya, naik turun kapal pengangkut sampai ke pulau yang tak pernah kita dengar namanya demi menemukan paradoks dari klaim-klaim klise soal Indonesia. Iya, Indonesia yang konon negara agraris dan berjaya di lautan. Dari perjalanan itu, Yunus, jurnalis di usia kepala tiga yang pernah menulis untuk Majalah Pantau dan aktif di Aliansi Jurnalis Independen, berusaha merekam suara-suara orang biasa yang di Jakarta abai didengar.

Sepuluh tahun berlalu. Kini Yunus bercerita kepada Kelilingindonesia.online mengenai kenangannya bersama motor butut modifikasi, kerinduannya pada petualangan saat usianya 20-an, hingga hasratnya untuk kembali bertualang.

Tim Keliling Indonesia : Halo Kang. Dari mana awalnya ide nekat keliling Indonesia bermula?

Ahmad Yunus: Cerita besarnya sih mau pakai kapal Phinisi, idealnya. Tapi mikir lagi pasti budgetnya jadi besar, logistiknya juga membesar, susah lah intinya. Akhirnya nekad pakai motor, itulah ajakan si Mas Farid Gaban. Kalau motornya waktu itu sudah disiapkan sama teman-teman. Pas lihat motornya langsung berpikir, “waduh ini pasti timbul masalah.”

Baca Juga : Ini Masukan Agar Traveler Bisa Keliling Indonesia Naik Mobil

Saat baca bukunya beberapa tahun lalu, Kang Yunus banyak membahas motor. Kenapa memilih motor untuk keliling Indonesia?

Sebab motor yang murah meriah praktis perawatannya, terus dipakai oleh kalangan paling bawah. Kalau enggak diapa-apain sebetulnya pakai itu motor enak banget. Nah ini dimodifikasi seperti motor trail. Sebetulnya bisa dipakai sebagai motor trail tapi paling untuk perjalanan pendek saja. Otomatis ada perubahan besar dari segi kelistrikannya, lampunya, joknya. Jadi ketika dibawa untuk perjalanan panjang maka itu jadi masalah besar, hahaha. Masalahnya sih kenyamanannya aja, kalau secara mesin atau rangka ya oke banget. Alasannya pakai motor jenis ini karena ringan jadi oleh dua orang motor ini gampang untuk dinaikin ke kapal, ketimbang pakai motor yang lebih besar. Lalu untuk dinaikkan ke kapal-kapal kecil juga oke, kapal ferry juga enggak makan tempat. Kalau pakai motor besar pasti repot.

Cerita apa yang paling diingat selama naik motor keliling Indonesia?

Soal kenyamanan itu yang terasa misalnya jok motornya. Kalau jok bawaan motor kan agak tebal yah, lalu dimodifikasi jadi trail otomatis lebih tipis, akhirnya sakit ke pantat kalau dipakai jarak jauh. Lalu mikir sambil perjalanan tuh lama-lama diganjel joknya pakai macam-macam mulai dari sarung, jaket. Awal-awal masih rapi, tapi perjalanan masuk bulan kedua ketiga dan seterusnya sudah mulai banyak yang kita tempelin di jok supaya lebih nyaman. Kadang saya ketawa aja sepanjang perjalanan, tapi karena ya memang enggak ada pilihan lain.

Rute yang seperti apa sih yang harus dilalui selama delapan bulan tersebut?

Dari Jakarta, ke Sumatra lalu keliling Kepulauan Natuna, terus ke Singkawang, turun terus ikutin jalur perutnya Kalimantan muter sampai Nunukan terus Tarakan. Nah dari situ motor kita kirim ke Flores. Mulai dari Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua itu sudah perjalanan laut semua. Jadi setengahnya pasti sudah laut semua. Setelah kami sampai di Flores, kita ketemu lagi dengan motor kita dan dari Flores sampai ke Jawa kita motoran lagi.

Saat itu apa sih yang ada di kepala ketika memutuskan keliling Indonesia naik motor?

Fokus ekspedisi ini pada awalnya ngomongin masyarakat di kepulauan-kepulauan terluar Indonesia dan isu lingkungannya. Dalam perjalanan ini akhirnya kita bisa melihat banyak hal. Pertama, yang menjadi kewajiban itu bebannya ada di Mas Farid untuk bikin buku foto tentang terumbu karang, tentang mangrove-nya. Di luar itu kita bebas mau mengeksplorasi cerita apa saja. Saya lebih tertarik untuk mendalami cerita soal manusia-manusianya.

Persiapan dari dana, gear, dan pengetahuannya bagaimana?

Kalau proyek ini terencana dengan baik kan bisa dihitung sebetulnya dari berapa lama perjalanannya, mau ke mana, dengan cara apa. Itu sangat menentukan proses budgeting. Waktu itu kita menghitungnya Rp500 ribu untuk seminggu. Dalam sebulan kebutuhan di lapangan sekitar Rp2,5 juta, jadi kalau selama 10 bulan kurang lebih 25 juta untuk perjalanan. Kenyataannya kalau dari segi bensin memang murah, lalu ngangkut motor di kapal memang mahal, kalau senang diving pasti akan lebih mahal lagi. Kalau menginap di penduduk ya enggak mahal pengeluaran, sisanya lebih untuk perawatan kendaraan.

Akankah jadi berbeda kalau petualangan itu enggak pakai motor?

Kita pakai motor itu karena murah, aksesnya lebih gampang untuk blusukan ke mana-mana. Manfaat motor sebetulnya mempermudah akses, menjangkau dari satu titik ke titik lain. Mungkin kalau dengan pesawat kita enggak akan merasakan yang namanya menembus perutnya Kalimantan yang jalannya di atas peta saja tidak ada, dan orang-orang lokal pun nggak banyak yang pernah menerobos jalur itu. Kami mengandalkan bertanya pada pedagang yang berkeliling dari kampung ke kampung, ternyata ada jalan tikus yang hanya bisa dilalui motor. Bisa saja keliling Indonesia pakai pesawat atau mobil, tapi nggak ada konektivitasnya, kita nggak bisa ngerasain panasnya, hujannya, debunya. Ini benar-benar ngerasain semua, nikmatnya perjalanan kerasa banget dan perjumpaan dengan orang-orang juga kerasa banget.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Pulau Jawa, apa saja perbedaan utama yang terlihat saat menyusuri pulau-pulau terluar Indonesia dibandingkan dengan Jawa pada umumnya?

Kejomplangan itu karena memang enggak pernah dilihat dan enggak pernah diurus saja. Saking besarnya Indonesia. Aku juga yakin setahun ekspedisi itu aku tidak melihat apa-apa tentang Indonesia. Kita melihat kurang lebih 50-100 pulau saat itu, ya nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan 17 ribu pulau. Gede banget Indonesia itu. Perjalanan itu akhirnya memunculkan pertanyaan-pertanyaan, “kita mikir gimana ya cara mengelolanya?”, atau “benar nggak sih selama ini sistem yang digunakan dengan mengurus semuanya dari Jakarta?” Kalaupun kita membayangkan otonomi daerah, otonomi yang seperti apa cocok buat Indonesia?” Dengan geografisnya, dengan masyarakatnya yang berbeda-beda, dengan kebiasaan yang berbeda juga. Jadi kita nggak bisa melihat hitam-putih Indonesia dengan sudut pandang dari sini (Jakarta), taraf hidup pun berbeda.

Setelah berkeliling dan melihat langsung, masalah apa sih yang dihadapi masyarakat Indonesia di pulau-pulau terluar?

Minimal, kami sepakat bahwa kebutuhan dasar masyarakat kita terpenuhi. Banyak kasus misalnya di suatu pulau, masyarakatnya biasa saja. Bukan mereka miskin, kita melihat potensi mereka dahsyat, misalnya perikanannya. Yang jadi masalah adalah pengolahan ikannya, misalnya ketersediaan esnya, bahan baku, kapal yang kecil. Jadi secara ekonomi mereka sanggupnya ya segitu-gitunya. Bukan karena nggak ada ikannya. Hampir dari seluruh perjalanan yang kami lewati, secara kasat mata saya bisa bilang Indonesia itu surga yang beneran surga. Perhatian ke sananya itu nggak pernah ada untuk menunjang ekonomi masyarakat, jadinya ya seada-adanya.

Buku Meraba Indonesia keluar bersamaan dengan tren backpacking di Indonesia waktu itu. Ada yang menilai tren tersebut problematik mengukur dari dampak yang dihasilkan buat masyarakat. Menurut Kang Yunus gimana tuh?

Kalau kita melihat sejarah kalangan backpackers itu ya dari kaum hippies yang mencoba untuk keluar dari kemapanan mereka terus melebur dengan masyarakat dan mencatat dengan apa adanya lewat Lonely Planet. Kita melihat tren backpacker makin naik ketika media sosial makin berkembang, kamera makin oke. Lalu mulai banyak juga media yang ngomongin tentang keindahan Indonesia itu sendiri. Tapi tahapannya masih dalam tahapan wow melihat Indonesia. Reaksinya itu masih tahap awal saja. Mungkin perubahan besarnya pas lagi ada program “Indonesia mengajar” dan program yang lainnya, di mana anak-anak muda berkumpul lalu disebarkan ke luar Jakarta untuk mengajar. Dari situ baru muncul sorotan terhadap aspek sosialnya. Baru dari situ mulai ada yang ngomongin toleransi, ngomongin pendidikan, kesehatan. Tren positifnya adalah menyadari bahwa ternyata banyak hal yang mesti kita benahi kalau ngomongin soal Indonesia.

Masuk ke kehidupan orang-orang biasa?

Iya, memperkuat suara orang-orang biasa. Salah satu medium yang kita gunakan dalam menceritakan perjalanan setahun itu adalah Facebook. Melihat interaksi antara saya di lapangan dan orang-orang lain (di sosial media), mereka terasa seperti dibukakan lembaran-lembaran tentang Indonesia lapis demi lapis. Cerita orang biasa itu bukan cerita yang mengawang-awang, tapi cerita keseharian kan. Waktu itu juga lagi menjelang Pilpres 2009 dan media lagi ramai wacana yang gede-gede, tiba-tiba kita memunculkan tema-tema kecil.

Soal nelayan, atau soal orang suku Bajo yang tidak bisa menyelam lagi karena banyak yang mengalami kelumpuhan akibat selam kompresor. Itu kan kasus yang nggak pernah dilihat media. Di saat ada wacana besar, tiba-tiba kita kayak kunang-kunang saja. Orang-orang itu ternyata ngikutin cerita kunang-kunang ini. Kami tidak berharap banyak, tapi minimal orang jadi ingat kembali dengan tema keindonesiaan tadi. Orang kembali bicara soal nasionalisme, tapi pertanyannya sebetulnya nasionalisme macam apa sih yang diinginkan ketika ide tersebut dibenturkan lagi pada cerita manusia yang kecil-kecil itu tadi.

Keliling Nusantara Tak Sekadar Mimpi!!!

Kelilingindonesia.online – Jakarta (Selasa, 19-05-2020), Backpacking identik dengan jalan-jalan menggunakan tas punggung, tanpa koper, dengan alokasi dana yang bisa ditekan seminimal mungkin. Gaya traveling seperti ini kian populer, terutama di kalangan milenial. Mereka yang berusia antara 18-34 tahun.

Tiket pesawat murah kelas ekonomi dan akomodasi ramah kantong bukan lagi impian. Tak heran, pelajar, mahasiswa, bahkan profesional muda rela terjaga hingga larut malam untuk berburu tiket, yang terkadang memberi penawaran hingga nol rupiah.

Tiket di tangan, tas punggung disambar, lalu terbang ke destinasi yang tercantum dalam catatan, The Bucket List! Pulau Weh di Sabang (Aceh), dataran tinggi Sembalun di Lombok (Nusa Tenggara Barat), Tana Toraja (Sulawesi Selatan), Talaud (Sulawesi Utara), sampai Raja Ampat (Papua).

Tapi, sebelum berangkat, persiapan apa saja yang harus kita pikirkan?

Pertama, siapkan mental. Anda bukan petualang? Tak masalah. Pastikan membawa tas punggung yang tahan air (water-resistant), dengan ukuran sesuai kebutuhan. Karena itu, penting menyeleksi isi tas. Kedua, pakai sepatu yang nyaman. Boleh sneakers atau sepatu lari. Jangan lupa selipkan sandal.

Travel wardrobe menjadi pertimbangan berikutnya. Sesuaikan busana, termasuk barang bawaan lainnya, dengan lokasi tujuan. Anda bisa membawa baju renang bila ke pantai atau jas hujan bila trekking masuk rencana perjalanan.

Keempat, benda-benda kecil bernilai tinggi seperti sabun, sampo, sunblock, tisu, hand sanitizer, dan kotak P3K-seluruhnya dalam botol kecil yang mudah diisi ulang-jangan sampai tertinggal. Juga vitamin dan obat.

Bagi solo traveler atau backpacker yang tergabung dalam kelompok kecil, berbagi kamar menjadi pilihan terbaik. Selain murah meriah, hostel atau penginapan “kapsul” memberi Anda kesempatan untuk mendapatkan teman baru. Tapi, jika ingin lebih privat, Anda bisa memesan kamar terpisah.

Mengunduh peta offline seperti Maps.Me dan Here WeGo sebelum memulai petualangan akan sangat membantu. Anda mungkin tidak mendapatkan sinyal atau Wi-Fi di semua tempat. Dan kamera menjadi benda paling krusial untuk mengabadikan momen, yang mungkin saja tidak akan terjadi dua kali sepanjang hidup.

Ini Masukan Agar Traveler Bisa Keliling Indonesia Naik Mobil

Jakarta – Dijamin pasti banyak dari kita yang mengaku warga negara Indonesia, tapi belum mengenal Indonesia seutuhnya, bahkan belum pernah berkunjung ke berbagai daerah Indonesia. Tentu bukan tanpa alasan tidak melakukan hal tersebut, mengingat luasnya wilayah Indonesia, mahalnya biaya untuk mengenal Indonesia, kesiapan mental, tidak ada waktu dan segudang alasan lainnya yang membuat banyak dari kita untuk tidak bisa melakukan perjalanan keliling Indonesia.

Tapi tidak untuk keluarga Kusmajadi yakni Abah Dodi Kusmajadi (47), Ambu Melati Muslaela Puteri (43), Abang Abdul Hakim Putra Kusmajadi (16) dan Dek Nara Sabiya Putri Kusmajadi (14), yang meninggalkan semua kehidupan mereka demi keliling Indonesia menggunakan truk Mitsubishi Fuso yang disapa Moti.

Memilih untuk melakukan perjalanan panjang hingga memakan waktu tahunan ini, memang sengaja dilakukan agar bisa belajar, merasakan hidup diberbagai wilayah Indonesia, lebih mengenal Indonesia, serta mensyukuri semuanya.

Namun perjalanan mereka untuk bisa keliling Indonesia menggunakan truk bukan tanpa masalah, hal ini coba mereka ungkapkan dan beri masukan kepada pemerintah. Agar setiap masyarakat Indonesia bisa lebih mengenal Indonesia, dengan cara melakukan perjalanan keliling Indonesia bersama keluarga dengan cara keliling Indonesia.

“Kesulitan apa yang dirasakan selama perjalanan? Mungkin bukan kesulitan kaliya, tapi catatan saja bagi pemerintah. Budaya Family Traveling ini akan menjadi tren,” ujar Abah.

“Ada yang menggunakan media lain seperti van, mobil atau motor. Seharusnya kalau kami diberikan wilayah parkir (di seluruh wilayah Indonesia-Red), air bersih, pembuangan air kotor ini sangat membantu. Kaarena ini semua belum ada sama sekali selama ini,” tambah Abah.

Meski demikian, Keluarga Kusmajadi tidak kalah akal untuk bisa tetap melanjutan perjalanan menggunakan truk untuk keliling Indonesia.

“Tapi kita bukan berarti tidak bisa. Karena masih ada masjid, SPBU, ada teman, saudara, ini jadi faktor lain untuk bisa tetap mendukung perjalanan kami,” ujar Abah.

Begitu juga perihal bahan bakar, Keluarga Kusmajadi menemukan fenomena unik di jalanan. Yakni disaat di SPBU bahan bakar dinyatakan habis. Ternyata hanya beberapa meter, sudah banyak pedagang bahan bakar minyak (BBM) yang menjual secara eceran.

“Kendala sendiri waktu di Sulawesi saat ingin mengisi bbm, kami-kan menggunakan solar, kalau dibandingkan dengan Dexlite ini (Solar) separuhnya (harganya-Red). Karena susah, akhirnya kita harus beli pertamina dex. Karena saat di SPBU kosong, tapi 1 meter keluar dari SPBU ada yang menjual secara eceran,” katanya.

Begitu juga dengan masalah keamanan. Memang keluarga Kusmajadi merasakan Indonesia sangat aman dan masyarakatnya sangat ramah-ramah. Karena disetiap perjalanan keliling Indonesia mereka selalu disambut baik. Namun tetapo saja mereka mengalami kejadian yang membuat Keluarga Kusmajadi tidak nyaman.

“Masalah keamanan, selama perjalanan kasus keamanan itu hanya kejadian di Bulukumba. Waktu itu kami menginap di pinggir jalan depan masjid. warga datang mereka melihat ini (perjalanan Keluarga Kusmajadi-Red) unik, warga datag dengan ramah. Kenapa di situ karena warga ramah, ada air bersih,” ujar Abah.

“Namun saat menunjukkan pukul 23.30 waktu setempat, tiba-tiba ada yang ketuk-ketuk pintu kami. dan marah-marah menggunakan bahasa daerah. Orang itu gedur-gedur mobil kami, saat itu kami tidak panik. Karena mobil kami seperti benteng yang memberikan keamanan. Kami tidak mengerti apa maksud dirinya mendatangi kami, namun selang beberapa lama, ada 3 orang yang mendatangi kami. Dan ternyata membujuk orang yang marah-marah tersebut untuk pergi,” kata Abah Dodi.

Abah Dodi menceritakan ternyata orang yang menyambangi dirinya tengah tidak menyadarkan diri karena mabuk. Namun berkat tiga orang yang datang tersebut, orang tersebut pergi meninggalkan keluarga Kusmajadi.

“Ternyata yang datang pertama kali ke kami itu tengah mabuk. Untung ada 3 orang yang kembali mendatangi kami, dan meminta orang tersebut pergi. Akhirnya orang tersebut pergi, dan ketiga orang tersebut meminta maaf atas kejadian ini,” cerita Abah Dodi.

20 Tahun Ismail Bersepeda Keliling Indonesia. Perjalanannya Belum Berhenti

Kelilingindonesia.online | MOJOKERTO – Ismail (48) mendedikasikan hampir separo umurnya untuk berpetualang mengelilingi Indonesia dengan menggunakan sepeda.

Pria asal Desa Cangko RT 7 RK II Blok Desa/Kecamatan Banggodua, Indramayu, Jawa Barat ini, memulai perjalanan berkeliling Indonesia sejak umur 20 tahun.

“Saya memulai berkeliling Indonesia tahun 1989 tepatnya tanggal 20 Juli. Waktu itu saya berkeliling dari Bali ke wilayah Timur Indonesia. Ini merupakan cita-cita saya sewaktu kelas 6 SD. Saya ingin menaklukan Nusantara dengan bersepeda,” katanya saat mengunjungi Media Center, Mojokerto, Selasa (11/9).

Selama 20 tahun, ia berhasil menyinggahi 298 kabupaten atau kota di Indonesia. Di setiap daerah yang disinggahi, Ismail mengumpulkan tanda tangan dari tokoh masyarakat maupun pemda. Dari 298 kabupaten dan kota yang disinggahi, tercatat, ada 3,9 juta tanda tangan dan 154 buku.

“Kalau sudah penuh, buku saya kirim ke Indramayu,” ujarnya.

Ismail menghias sepedanya dengan tulisan keliling Indonesia yang ia tempelkan di depan keranjang. Lalu pada bagian belakang sepeda Ismail, berkibar bendera merah putih.

Sepeda yang dikendarai Ismail saat ini, adalah sepeda yang ke-33. Ismail harus rela menjual dan membeli sepeda baru agar dapat sampai ke tujuan. Sebab, medan jalan yang ia lalui tak selalu mulus.

“Kalau sepeda, ini sudah sepeda yang ke-33. Empat diantaranya pernah saya jual karena medannya yang tidak memungkinkan, sehingga saat sampai daerah tujuan baru saya belikan sepeda lagi,” ucapnya.

Ismail juga mengaku pernah mendapatkan pemberian sepeda dari Gubenur Timor-timur (sekarang Timor Leste) tahun 1989.

“Sepeda pemberian pak Gubernur Timor-Timur sangat nyaman dikendarai. Namun, sayang saya terpaksa menjualnya lantaran risih akan pandangan orang lain,” ucapnya.

“Waktu itu saya jual laku Rp100 juta lebih. sepedanya awet. Dengan naik sepeda, saya jadi tahu profil setiap daerah,” tambahnya.

Ismail juga menceritakan, saat mengelilingi Indonesia banyak kisah-kisah pahit yang harus diterima. Ia pernah menjadi tawanan di Papua lantaran menabrak seekor babi.

“Saya pernah ditawan di Papua selama dua hari karena menabrak seekor babi dan menyebabkan kaki babi itu terluka. Saya juga pernah kesasar dan pulang cukup lama, seperti pada tahun 2002 terjadi konflik di Sampit. Saat itu saya pulang setengah tahun menunggu suasana kondusif,” ungkapnya.

Untuk dapat berkeliling Indonesia, Ismail harus merogoh kocek sebesar Rp 300 juta. Uang tersebut ia dapatkan dari sponsor dan youtube.

“Pengeluaran naik sepeda lebih banyak karena lebih mudah capek dan haus. Uang tersebut saya gunakan untuk membeli makanan dan minuman. Saya menargetkan bulan Maret 2019, perjalanan keliling Indonesia selesai. Rute akhir di Bali sesuai awal perjalanan saya,” pungkasnya.

Ferry Kana, 4 Tahun Naik Motor Keliling Indonesia Sambil Memotret Keindahan Negeri

Ferry Kana, seorang rider yang sudah empat tahun keliling Indonesia menggunakan motor kesayangannya, sambil memotret keindahan Indonesia.

Mungkin tak banyak orang tahu nama Ferry Kana, seorang petualang dan fotografer. Ferry punya banyak pengalaman menarik. Sesi sharing Ferry Kana (Kanan) di panggung utama Kustomfest 2017.

Dirinya hadir di acara Kustomfest 2017 di Jogja Expo Center, Yogyakarta dan diminta untuk bercerita pengalaman berkeliling Indonesia dengan mengendarai motor kesayangan-nya.

Tidak tanggung-tanggung waktu yang dihabiskan Ferry, bukan hitungan hari atau minggu seperti kebanyakan orang melakukan perjalanan. Ia sudah berkeliling ke berbagai tempat di Indonesia selama empat tahun. Tempat-tempat yang dikunjungi di antaranya adalah Pulau Jawa, Bali, Lombok hingga Sumba.

Awal mula perjalanan

Di hadapan pengunjung Kustomfest, Ferry berbagi cerita perjalanan awal ketika ia terjun ke dunia riding.

Kisahnya dimulai ketika ia merasa penat dengan suasana pekerjaan yang terlalu monoton, itu itu saja setiap hari. Kehidupannya sebagai fotografer dianggap nya kurang memberikan kejutan-kejutan segar pada setiap prosesnya. Ia semakin merasa jenuh dengan keadaannya ketika itu.

Tak lagi kuat menahan penat, Ferry akhirnya coba “melarikan diri”. Ia mengubah dirinya dan juga kegiatan serta kebiasaannya sehari-hari. Ia beralih memikirkan sesuatu yang bisa dilakukannya dengan serius tetapi tidak menjadikannya monoton.

Riding itu dimulai dari hati, kalau saya dari melarikan diri pada kenyataan. Saya bosan sama kebiasaan yang ada di sekitar. Perlu untuk mengubah diri dan saya kustom sendiri kehidupan saya,” katanya.

Berbekal fotografi dan kecintaannya berkendara

Dulunya ia seorang fotografer. Kini, Ferry coba menciptakan dunia barunya. Bermodalkan keberanian tersebut, ia mulai berhenti dari keseharian yang dianggapnya membosankan dan mainstream.

Ia memutuskan untuk mencoba menggabungkan pekerjaan terdahulunya di dunia fotografi dengan hobinya berkendara. Akhirnya, ia cukup yakin untuk melanjutkan riding sekaligus memotret sejak 4 tahun yang lalu dengan rute berkeliling Indonesia.

Awalnya Ferry hanya melakukan perjalanan jarak dekat dengan motornya, menempuh waktu 2-3 hari saja. Tetepi seiring proses berjalan, ia mulai merasa nyaman dan terpikat dengan kehidupan seperti ini. Hingga akhirnya ia menambah waktu riding nya hingga berminggu-minggu dan berbulan-bulan.

Enggan hidup mainstream

Setelah merasa menemukan dunia yang cocok untuknya, Ferry semakin yakin dengan apa yang dilakukannya karena ia juga merasa senang dengan kehidupan yang ada sekarang.

Untuk itu, dalam prosesnya ia juga tetap menerapkan prinsip “enggan hidup mainstream”. Salah satu contoh yang ia ceritakan, ia lebih sering memilih lokasi-lokasi wisata yang jarang didatangi orang atau bahkan jarang diketahui orang.

Saat berkunjung ke Lombok beberapa waktu yang lalu misalnya, ia bercerita bahwa mayoritas orang akan memilih ke daerah Gili Barat yang memang sudah terkenal akan keindahan alamnya. Tetapi Ferry memilih memacu kendaraannya ke kawasan sebaliknya di daerah Gili Timur.

“Orang pergi ke Lombok cari Gili barat, saya cari Gili timur. Saya satu-satunya orang asing di sana. Mereka malah menganggap saya saudara, tinggal bagaimana kita membawa diri,” ungkapnya.

Pengalaman keliling Indonesia naik motornya

Aksi anti mainstream yang dilakukan oleh Ferry, bisa dibilang berbuah manis. Ia mengakui menemukan gaya hidup baru yang tidak monoton dan selalu memberi kejutan serta warna tersendiri dalam setiap perjalanannya.

Ia tidak hanya merasakan pesona Indonesia yang memang sudah tak diragukan lagi, tetapi lebih dari itu. Pengalamannya berkendara selama ini menjadikannya merasa lepas dan bebas.

Meski seringkali melakukan solo riding atau berkendara sendiri, ia tidak merasa kesepian karena setiap tempat dan komunitas yang didatanginya selalu menganggap dirinya bagian dari keluarga mereka sendiri.

Ini sedikit penampakan Ferry Kana dan motornya di berbagai tempat di Indonesia:

Ferry Kana mengendarai motor kesayangannya

Ferry tampak tersenyum saat mengendarai motor kesayangan yang sudah menemani nya berkeliling Indonesia selama bertahun-tahun. Motor yang dipakai Ferry adalah Royal Enfield dengan beberapa kustom yang dilakukannya sendiri, untuk menyesuaikan kondisi.

Bentangan laut tak jadi halangan, lanjut terus

Tidak hanya di satu pulau, Ferry berkendara menyeberangi pulau-pulau bersama motornya. Foto di atas adalah pengalaman Ferry ketika menyeberangi lautan bersama motornya ke Sumba. Ia mengaku harus berada di perahu kayu selama 8 jam.

Menikmati pesona Indonesia di berbagai tempat

Mengelilingi Indonesia tidak lengkap rasanya tanpa mengabadikan momen-momen indah di berbagai tempat di Indonesia. Sebagai seorang fotografer, Ferry banyak memposting gambar perjalanannya di akun Instagram miliknya. Foto di atas salah satunya, foto motor dan tenda tempatnya tidur berlokasi di puncak B29, Lumajang, Jawa Timur.

Budget Super Minim, Kamu Tetap Bisa Keliling Indonesia, Begini Caranya

Sudah bukan rahasia lagi jika Indonesia menyimpan kekayaan dan keindahan alam yang luar biasa. Keindahan alam ini tentu saja bisa menarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Meski demikian, banyak orang yang menahan diri untuk nggak jalan-jalan atau berwisata keliling Indonesia dikarenakan masalah biaya. Tapi tenang saja, meskipun kamu memiliki budget super minim, kamu tetap bisa keliling Indonesia. Begini caranya.

 

1. Melakukan perjalanan malam

Jika kamu ingin keliling Indonesia, pastikan kamu melakukan perjalanan malam. Hal ini dilakukan agar kamu bisa menghemat biaya penginapan.

Memulai perjalanan pada malam hari memungkinkan kamu bisa tidur di dalam kereta, pesawat atau bus malam, yang jelas nggak mengeluarkan biaya dibandingkan menginap di hotel.

Selain itu, untuk tiket pergi-pulang, sebaiknya pilih pada hari biasa karena harga tiket biasanya akan melonjak naik pada akhir pekan. Selain lebih terjangkau, perjalanan pada hari biasa dan malam hari juga akan menghindarkanmu dari kemacetan sehingga kamu dapat menghemat banyak waktu.

 

2. Makan di warung pinggir jalan

Jalan-jalan keliling Indonesia nggak bakal lengkap tanpa mencicipi kuliner khasnya. Namun, untuk urusan makan, lebih baik kamu hindari restoran atau rumah makan yang mahal.

Cari tahu apakah ada warung atau pasar tradisional yang juga menjajakan makanan serupa. Harga makanan di warung tepi jalan atau kaki lima tentunya akan jauh lebih murah dibandingkan dengan harga makanan di restoran.

Hal ini bakal berguna jika kamu jalan-jalan ke kota besar (Jakarta, Surabaya), kota yang banyak turis internasional (Bali), atau kota yang dekat dengan negara lain (Tanjungpinang, Medan), yang harganya relatif lebih mahal.

 

3. Mencari teman di berbagai kota

Jika kamu memiliki teman di berbagai kota yang tersebar di Indonesia, maka kamu beruntung. Bisa jadi saat kamu bepergian ke kota tempat mereka tinggal, mereka akan mengizinkanmu untuk menginap di rumah mereka.

Selain itu, teman atau kenalanmu di daerah yang sama sekali belum pernah kamu singgahi juga bisa memberikan rekomendasi tempat-tempat murah yang nggak banyak orang tahu. Jika kamu nggak punya kenalan di kota selain tempat tinggal kamu, nggak sulit kok mencari kenalan atau teman baru yang bisa kamu temui di Indonesia.

Sebelum berencana untuk jalan-jalan, luangkan waktu kamu untuk bergabung dengan komunitas wisata yang bisa kamu temukan dengan mudah melalui keajaiban internet.

 

4. Bawa pakaian secukupnya

Masalah yang satu ini biasanya paling bisa membuat para cewek pusing. Ingatlah bahwa mengelilingi Indonesia itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Serta memungkinkan kamu untuk berpindah-pindah pulau dan tempat lebih dari dua kali. Biar nggak repot, maka bawalah pakaian dengan jumlah sedikit sehingga memudahkan kamu untuk membawanya tanpa rasa berat saat harus berpindah lokasi.

Untuk menyiasati agar nggak kehabisan pakaian, bawalah detergen cair sehingga kamu bisa mencuci pakaian kotor.

Bawalah pakaian kasual seperti kaos, celana panjang dan pendek serta beberapa pakaian dalam. Bagi para cewek, sebaiknya hindari juga pakaian yang terlalu seksi dan terbuka.

 

5. Nebeng

Namanya juga ingin jalan-jalan murah, apapun juga akan kamu lakukan untuk menekan biaya pengeluaran. Salah satu biaya terbesar yang akan menguras isi dompetmu saat berlibur adalah ongkos atau biaya transportasi.

Karena masih asing dengan medan dan daerah sekitar, kamu tentunya akan lebih sering menggunakan tranportasi umum yang terkesan praktis dan aman seperti taksi.  Padahal jika hal ini tetap kamu teruskan, maka bukan nggak mungkin, budget liburanmu akan cepat terpangkas habis.

Untuk menyiasatinya, kamu bisa meminta warga sekitar untuk memberimu tumpangan menuju tempat lain yang ingin kamu singgahi. Tentu saja kamu harus memintanya dengan cara yang sopan dan jangan memaksa.

 

Itulah 5 cara agar kamu bisa keliling Indonesia dengan budget yang super minim. Jadi, sudah tentukan mau liburan ke mana saja?

Paox Iben, Bersepeda Motor Kunjungi Masyarakat Adat di Pelosok Indonesia

Mulai terpinggirnya masyarakat adat di kawasan terpencil menginspirasi Paox Iben untuk berkeliling Indonesia menemui mereka. Menariknya, Paox melakukannya dengan menggunakan sepeda motor sendirian. Berikut sepenggal kisah perjalanan itu.

SOSOK Ahmad Ibnu Wibowo, nama asli Paox Iben, sejatinya lahir dan besar di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Namun, sejak remaja Poax jatuh cinta pada Lombok. Bahkan, beberapa kali, saat SMA, dia mengunjungi pulau indah di Provinsi Nusa Tenggara Barat itu. Tidak dengan pesawat, tapi menaiki motor kesayangan.

’’Motor saya waktu itu masih Honda Astrea. Saya buat keliling sampai sini,’’ ungkap Paox membuka cerita kepada Jawa Pos yang menemui di rumahnya, Mataram, Lombok, beberapa waktu lalu.

Dia menegaskan bahwa dirinya bukan anak motor, namun memang suka dolan atau bersilaturahmi ke mana pun dengan menggunakan motor. Selain mencintai Lombok, lulusan filsafat Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta itu juga menemukan jodoh di tanah Tambora tersebut.

’’Faktor-faktor itulah yang kemudian membuat saya memutuskan untuk tinggal di Lombok,’’ ujar suami Nur Janah dan bapak tiga anak itu.

Sebagai seniman dan penulis, Paox selama ini banyak berfokus mempelajari seni dan budaya masyarakat yang dikunjunginya. Keputusannya untuk berkeliling Indonesia dengan menggunakan motor merupakan rangkaian kegiatannya mengampanyekan Bhinneka Tunggal Ika for The World. Alasannya, Bhinneka Tunggal Ika adalah warisan budaya yang terlalu kecil jika hanya diketahui bangsa Indonesia saja.

’’Magna Charta saja sudah mendunia. Padahal, dari sisi dokumen, realitas keberagaman kita luar biasa. Masyarakat dunia bisa belajar pluralisme di sini,’’ ujar pria dengan ciri khas rambut gimbalnya itu.

Kehidupan masyarakat adat masa kini, kata Paox, penting untuk dipelajari. Pada masa lalu, masyarakat adat memiliki peran penting dan hidup di tengah-tengah pusat ekonomi. Kini, di tengah perkembangan zaman, masyarakat adat tergeser ke pinggiran dan hampir punah.

Keinginan berkeliling Indonesia itu sudah lama dicita-citakan Paox. Namun, untuk merealisasikannya, tentu diperlukan kendaraan yang mumpuni, mampu menempuh medan berat, dan sesuai dengan postur orang Indonesia. Maka, Kawasaki Versys menjadi pilihan utama. Motor jenis dual purpose seharga Rp 150-an juta itu dibeli dengan dana seadanya.

’’Belinya kredit, pakai utang sana-sini. Saya kan tidak punya sponsor. Itu pun motornya baru bisa dipakai keliling (Indonesia) setelah lunas,’’ ujarnya, lalu terkekeh.

Paox memulai perjalanan keliling Indonesia pada Oktober tahun lalu. Start dari Lombok ke arah barat melewati Bali, Jawa, dan menuju Sumatera. Selama sekitar tiga bulan, Paox mengunjungi berbagai masyarakat adat di wilayah Indonesia Barat itu. ’’Saya berangkat bawa sangu Rp 900 ribu, sampai Jogja sudah habis,’’ ungkap pria kelahiran 8 Februari 1976 tersebut.

Meski uang sakunya habis pada awal perjalanan, Paox tidak putus asa. Di etape perjalanan, Paox selalu mem-posting tulisan serta foto-foto yang didapatnya selama dalam perjalanan ke akun Facebook pribadinya. Dari situ, banyak teman Paox yang berkomentar, bersimpati, dan memberikan bantuan.

’’Banyak yang bilang, ’Eh aku senang lihat perjalananmu, tak ikut kontribusi ya’,’’ katanya.

Bahkan, berkat tulisan perjalanannya secara berkala itu, Paox bisa bertemu dengan kawan lamanya semasa tinggal di Semarang. Dia kini menetap di Padang. Dari temannya tersebut, Paox juga mendapat bantuan. ’’Dia bilang akan ikut urun bensin. Eh, tak tahunya dikasih Rp 15 juta, hahaha…,’’ ujarnya.

Selama di Sumatera, Paox melihat banyaknya perubahan infrastruktur yang mendesak masyarakat adat ke kawasan pinggiran. ’’Saya menyebut Sumatera sebagai darurat sawit,’’ tegasnya.

Paox memiliki alasan menyebut Sumatera sebagai darurat sawit. Sebab, hampir seluruh wilayah di pulau itu saat ini sudah berubah menjadi lahan kebun sawit. Bahkan, untuk menuju Candi Muara Takus, Riau, harus melalui perkebunan sawit yang panjang.

’’Nilai historisnya sudah hilang. Sulit membayangkan kebesaran budaya masa lalu, lebatnya hutan di sekeliling candi, karena isinya kini sawit semua,’’ ujarnya memberikan contoh.

Memasuki 2016, Paox melanjutkan perjalanan ke wilayah Indonesia Timur, yakni Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. Di antara sekian banyak kelompok masyarakat adat yang dikunjungi, Paox mengaku secara khusus memberikan perhatian lebih pada lima komunitas adat. Yakni, Sumbawa (NTB), Ende Flores (NTT), Enrekang (Sulawesi Selatan), Halmahera Tengah (Maluku Utara), dan Bulungan (Kalimantan Utara).

Di Bulungan, Paox menemui masyarakat adat suku Dayak Punan. Dayak Punan merupakan suku Dayak yang paling tertinggal dan hampir punah. Kini tinggal 200 kepala keluarga.

’’Pada 1971, banyak orang Dayak Punan yang dipindah ke kota untuk dimanusiakan. Begitu otonomi daerah berlaku, mereka diusir masyarakat kota karena dianggap pendatang. Sementara itu, tanah tempat tinggal mereka sudah dikeruk habis,’’ jelas Paox.

Kondisi itu membuat sebagian suku Dayak Punan memilih tinggal menyebar di belantara Kalimantan Utara. Ketika ditemui saat itu, Paox jadi tahu bahwa suku Dayak Punan, terutama Dayak Punan Dulau, memiliki kemampuan tradisional merehabilitasi hutan. Selain itu, mereka memiliki keahlian berburu yang kuat. ’’Postur mereka kecil seperti hobbit, senjata mereka pakai sumpit,’’ katanya.

Paox sempat mencicipi hasil buruan orang Dayak Punan Dulau. ’’Magrib mereka keluar, jam 10 malam mereka sudah membawa dua babi, satu landak, satu kancil, dan serangkai ikan-ikan,’’ imbuhnya.

Untuk bisa mengakses masyarakat-masyarakat terpencil itu, Paox tidak bisa sendirian. Dia mendapat bantuan dari organisasi masyarakat seperti Sajogyo Institute (Sains) dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Saat mengunjungi desa adat di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Paox juga mendapat pengalaman menarik karena dia mempelajari banyak tabu sosial.

’’Ada daerah di sini yang melarang orang ngomong. Untuk potong rumput saja, harus potong ayam lebih dahulu. Ini cara mereka berkomunikasi dengan alam,’’ jelasnya.

Di Enrekang, Sulawesi Selatan, Paox menemui fakta adanya masyarakat adat yang mengalami trauma masa lalu. Karena itu, dia pun sulit mendapatkan kisah kebudayaan masa silam. Apalagi, masyarakat Enrekang tertutup terhadap orang asing. Mereka merasa trauma atas perlakuan penguasa yang kurang manusiawi kepada masyarakat adat Enrekang.

Selama mengunjungi masyarakat adat, Paox selalu menegaskan pentingnya menuliskan kembali budaya masing-masing masyarakat adat. Selama ini, budaya itu hanya disampaikan secara lisan. Padahal, penguasaan secara lisan rawan mengalami distorsi informasi atau bahkan hilang menyusul punahnya suku tersebut.

’’Di Sumbawa, misalnya, penutur bahasa asli kini tinggal lima orang,’’ ujarnya menggambarkan.

Perjalanan Paox mengunjungi masyarakat adat berakhir pada Juli 2016. Total, Paox melintasi jarak sekitar 20 ribu kilometer selama sembilan bulan. Dari semua wilayah, dia sengaja melewatkan Papua karena alasan geografis. ’’Selain akses jalan yang belum banyak, medannya berat,’’ ungkapnya.

Meski telah menyelesaikan perjalanan dengan selamat, dia masih punya obsesi untuk melanjutkan kampanye Bhinneka Tunggal Ika for The World-nya. Target selanjutnya adalah berkeliling Asia Tenggara dengan motor. Namun, keinginan itu harus ditahan dulu karena faktor dana yang belum terkumpul.

’’Karena susah nyari sponsor dengan perjalanan semacam ini. Saya juga tidak mau sponsor dari motor, karena ini juga bukan touring cepat-cepatan,’’ ujarnya.

Sri Wahono, Naik Ontel Keliling Indonesia Berbekal Keahlian Pijat

Sri Wahono Margo Prayoga, 74, mulai berkeliling Indonesia sejak 1971. Berbekal keahlian memijat, pria ini nekat menaiki sepeda ontel miliknya tanpa merisaukan bekal uang. Dan seluruh catatan perjalanannya terarsip rapi dalam tulisan tangan. Seperti apa kisahnya?

DI usianya sudah memasuki senja, Wahono masih terlihat enerjik dan bersemangat. Di balik baju krem yang mulai menguning pria bertubuh kurus ini menunjukkan 13 buku catatan perjalanannya serta surat-surat perjalanan dia keliling Indonesia.

Pria kelahiaran 1945 ini mengaku memulai perjalanan keliling Indonesia ketika usianya menginjak 19 tahun. Kala itu jarak touring masih di daerah terdekat seperti Jogjakarta. Lalu pada 1971, dia membulatkan tekad melancong ke Jakarta.

“Saya coba pakai sepeda ontel jengki ke Jakarta tanpa berbekal uang. Waktu tempuh dua hari dua malam. Dari situ muncul ide bagaimana bisa tahu rupa dan seluk beluk Indonesia tanpa keluar biaya. Dan saya sudah punya bekal bisa pijat,” katanya.

Setelah berhasil ke Jakarta, Wahono kemudian mulai perjalanan di daerah Jawa, Madura dan Bali. Warga Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo ini kemudian melanjutkan ke perjalanan sampai ke Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi hingga Papua.

Bekal yang dibawanya hanya peta Indonesia, buku tulis, surat perjalanan, peralatan mandi dan beberapa setelan baju. Dia pun berinisiatif untuk mengarsipkan setiap perjalanannya dengan meminta cap tiap daerah yang dikunjunginya.

“Saya kini memiliki 13 buku dan beberapa akta perjalanan sebagai arsip perjalanan saya keliling Indonesia. Dari 13 buku itu, ada enam buku yang dibawa teman saya,” ungkapnya.

Catatan perjalanan tersebut ditulis tangan dan lengkap dengan cap milik pejabat pemerintah di daerah tersebut. Meski telah terlihat rapuh dan lusuh setiap catatan masih terbaca dan tersusun rapi. Cap dari lembaga yang dikunjungi seperti dari militer, dinas sosial, kantor kecamatan, resor kepolisian di Gorontalo, Sulawesi pada 1975, cap Kades Silanga, Sulawesi Tengah 1975 dan lainnya.

“Kalau di kota luar Jawa sepeda saya jual dan memilih jalan kaki. Baru kalau lanjut perjalanan saya beli sepeda lagi. Saya tidak khawatir kekurangan uang. Dengan bekal bisa memijat orang, saya bisa keliling Indonesia,” katanya.

Wahono mengaku bekal sakunya hanya dibawa secukupnya. Dan uang saku pertamanya didapat dari Sadikin Budikusumo, bupati Sukoharjo 1975. Nilainya saat itu Rp 15. Lalu setiap daerah yang dikunjunginya dia memperoleh bekal Rp 20.

“Perjalanan yang paling susah itu di Kalimantan Tengah ketika lewat dari Pangkalanbun (Kateng) menuju Nanga Tayap Kalbar. Karena tidak ada uang untuk naik kapal, saya terobos hutan dan makannya hanya pisang, apel, kelapa dan buah-buahan. Ketika lewat rawa-rawa itu kaki sudah banyak pacetnya,” ungkapnya.

Wahono mengaku tidak hanya pengalaman yang dia dapat. Namun, juga rupa Indonesia. Dia bisa melihat jika peradaban di tiap daerah berbeda-beda. Dan masing-masing daerah memiliki nilai sendiri. Dengan menjunjung setiap daerah, dia mengaku bisa membaur dengan suku manapun.

“Prinsipnya di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Di Papua para pendeta yang membantu perjalanan saya. Tak berbeda jauh di Jawa yang mayoritas Islam dan di pulau lain. Tanpa menilik apa agamanya, mereka menganggap saya saudara,” imbuhnya.

Wahono telah merampungkan ekspedisi keliling Indonesia pada 2008 lalu. Kini Wahono tinggal bersama istrinya Saparinah dan putrinya Puji Dewi Gede Ayu Rinjani di Sukoharjo. Hingga kini dia masih konsisten bersepeda ontel. Namun, bukan lagi keliling Nusantara, melainkan hanya wilayah eks Karesidenan Surakarta.