Panduan Traveling Keliling Indonesia

Kelilingindonesia.online – Indonesia adalah sebuah negara yang melintasi Equator di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Indonesia memiliki perbatasan darat dengan Malaysia di utara serta Timor Leste dan Papua Nugini di timur, juga tetangga Australia di selatan, dan Palau, Filipina, Vietnam, Singapura, dan Thailand di sebelah utara, India di barat laut.

Informasi di bawah ini akan secara rutin diupdate dengan informasi terbaru dan link yang relevan. Tulisan ini ditujukan sebagai Panduan Traveling Keliling Indonesia dalam satu tulisan.

Fakta Tentang Indonesia

Bendera Indonesia, Merah Putih

Mengerti Indonesia

Dengan total 18.110 pulau, 6.000 dari pulau tersebut dihuni. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Ada sekitar 240 juta orang tinggal di negara yang paling padat penduduknya ini. Nomor empat di dunia – setelah China, India dan Amerika Serikat – dan sejauh ini adalah negara terbesar di Asia Tenggara. Indonesia juga memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia. Penduduk Indonesia diprediksi akan menyalip AS dan menjadi yang terbesar ketiga sebelum tahun 2044. Pada dekade yang berakhir pada tahun 2010, pertumbuhan penduduk tetap tinggi pada 1,49% setiap tahun tetapi ada oposisi Muslim yang cukup besar untuk meningkatkan keluarga berencana.

Baca Juga : Cerita Perjalanan Keluarga Asal Malang Keliling Indonesia dengan Campervan

Indonesia memasarkan pariwisatanya dengan tagline Wonderful Indonesia, dan slogan yang cukup baik, meskipun dalam pelaksanaanya tidak selalu dilaksanakan dengan cara yang baik. Hutan tropis Indonesia adalah yang terbesar kedua di dunia setelah Brazil, dan sedang ditebang dan dikurangi pada kecepatan yang mengkhawatirkan. Sementara surga belanja ada di Jakarta dan surga wisata ada di Bali. Setelah puluhan tahun salah dalam menguurus ekonomi 50,6% dari populasi masih mendapatkan penghasilan kurang dari USD 2/hari menurut angka yang dikumpulkan oleh bank Dunia pada tahun 2009. Hal ini telah turun sebesar 6% dalam 2 tahun antara 2007 dan 2009. Infrastruktur di beberapa bagian negara tetap belum sempurna, dan traveler yang mengunjungi tempat terpencil akan memerlukan banyak kesabaran dan fleksibilitas.

Menurut “Energi Access” Kelompok Kerja Global Network Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan, pada tahun 2001, 53,4% dari penduduk Indonesia memiliki akses listrik dan mereka mengkonsumsi 345kWh untuk setiap orang dalam setahun. Pada tahun yang sama penduduk terdekat Singapura memiliki akses 100% dan mereka konsumsi 6.641 kWh. Sebagian besar dari penduduk Indonesia masih tetap bergantung pada kayu untuk bahan bakar memasak. Pemerintah pusat telah dalam beberapa tahun terakhir melembagakan program akses gas LPG untuk digunakan sebagai pengganti bahan bakar untuk memasak.

Sejarah Indonesia

Awal, sejarah modern Indonesia dimulai pada periode dari 2500 SM ke 1500 SM dengan gelombang imigran Austronesia berkulit coklat terang, yang diperkirakan berasal di Taiwan. Kelompok Neolitik ini orang, terampil dalam perjalanan maritim di laut terbuka dan juga pertanian. Mereka diyakini Cepat menggantikan yang sudah ada, sebuah populasi kurang berkembang.

Dari titik ini dan seterusnya, puluhan kerajaan dan peradaban berkembang dan memudar di berbagai belahan nusantara. Beberapa kerajaan penting termasuk Sriwijaya (abad ke-7-14) dari Sumatera dan Majapahit (1293- 1500), yang berbasis di Jawa Timur tapi pertama untuk menyatukan pulau-pulau utama Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan (sekarang Kalimantan) serta bagian dari Semenanjung Malaysia.

Orang Eropa pertama yang tiba (setelah Marco Polo yang melewati di 1200-an) adalah Portugis, yang diberi izin untuk mendirikan sebuah gudang di sebuah tempat yang kini dikenal sebagi jakarta Jakarta pada 1522. Namun pada akhir abad, Belanda mulai banyak mengambil alih, bersaing dengan Inggris pada tahun 1619. yang kemudian menguatkan posisinya di Jawa, dan berlanjut hinga 350 tahun penjajahan. Pun Inggris pernah menduduki Jawa pada tahun 1811-1816. Pada tahun 1824, Belanda dan Inggris menandatangani Perjanjian Anglo-Belanda yang membagi Melayu ke dalam wilayah kekuasaan Belanda dan Inggris. Belanda menyerahkan Malaka ke Inggris, dan Inggris menyerahkan semua koloni mereka di Sumatera kepada Belanda. Garis divisi kira-kira sesuai dengan apa yang sekarang perbatasan antara Malaysia dan Indonesia, dengan segmen kecil menjadi perbatasan antara Singapura dan Indonesia.

Berbagai kelompok nasionalis mulai berkembang pada awal abad ke-20, dan ada beberapa gangguan, namun cepat diatasi oleh Belanda. Pemimpinnya ditangkap dan diasingkan. Kemudian selama Perang Dunia II, Jepang menaklukkan sebagian besar pulau-pulau. Pada bulan Agustus 1945 di vakum pasca perang setelah Jepang menyerah kepada pasukan sekutu tentara dan angkatan laut Jepang masih menguasai mayoritas kepulauan Indonesia. Jepang setuju untuk mengembalikan Indonesia ke Belanda, tapi terus mengelolanya untuk sementara. Karena Belanda tidak dapat segera kembali akibat ketidak stabilan besar-besaran dari dampak perang di Eropa.

Kemerdekaan Indonesia

Pada 17 Agustus 1945 Sukarno membaca Proklamasi atau Deklarasi Kemerdekaan dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) membentuk pemerintah sementara. Sebuah konstitusi, yang disusun oleh komite persiapan PPKI diumumkan pada tanggal 18 Agustus dan Sukarno dinyatakan Presiden dengan Hatta sebagai Wakil Presiden. PPKI kemudian dibuat ulang ke dalam (Komite Nasional Indonesia Pusat) KNIP dan KNIP menjadi badan sementara. Pemerintah baru dipasang pada tanggal 31 Agustus 1945. pendiri Indonesia Soekarno (Soekarno) dan Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Republik Indonesia.

Baca Juga : 6 Bulan Keliling Indonesia Habis Rp 15 Juta, Yudha Diikuti Setan

Belanda melancarkan kampanye diplomatik dan militer untuk merebut kembali bekas koloni mereka dari kaum nasionalis. Perdebatan, negosiasi, partisi dan konflik bersenjata menang antara Indonesia baru merdeka dan Belanda. Beberapa negara termasuk Amerika Serikat yang sangat kritis terhadap Belanda di periode pasca perang ini segera dan pada satu tahap pada akhir 1949 pemerintah AS menghentikan bantuan yang diberikan kepada Belanda di bawah rencana Marshal. Masalah ini juga diangkat oleh PBB yang baru dibentuk. Setelah empat tahun pertempuran, Belanda menerima kekalahan dan tanggal 27 Desember 1949 mereka secara resmi ditransfer kedaulatan “Republik Indonesia Serikat” (Republik Indonesia Serikat). Pada Agustus 1950 sebuah konstitusi baru diproklamasikan dan baru Republik Indonesia dibentuk dari aslinya tetapi sekarang diperluas Republik untuk menyertakan Sumatera Timur dan Indonesia Timur / Negara Indonesia Timur. Jakarta dibuat ibukota Republik Indonesia namun Belanda dan Indonesia tetap dalam serikat konstitusional teoritis dengan Indonesia memegang status negara merdeka sepenuhnya.

Pada September 1950 Natsir dan partai Masyumi memimpin pemerintah pertama sepenuhnya Indonesia yang independen. Sukarno kembali lagi ke peran Presiden dan dari waktu ke waktu datang untuk menegaskan kekuatan yang lebih besar dalam peran tersebut. Untuk sementara waktu Indonesia menggunakan konstitusi sementara dimodelkan pada itu dari AS yang juga mengambil banyak dari PBB Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948. Pada 26 September 1950 Indonesia dibawa ke PBB yang baru dibentuk. The 1950 Konstitusi tampaknya telah upaya untuk membuat sebuah sistem democractic liberal dengan dua kamar parlemen. Kemudian pada tahun 1955, masih dalam konstitusi sementara ini, Indonesia mengadakan pemilu bebas pertama.

Pemerintah baru ditugasi menyelesaikan versi permanen dan terakhir dari konstitusi tapi setelah banyak perdebatan konsensus tidak tercapai menuju mengorganisir demonstrasi publik pada tahun 1958. Pada tahun 1959 Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit membubarkan konstitusi maka saat ini dan dikembalikan UUD 1945. Indonesia kemudian memasuki era Demokrasi Terpimpin dengan Kepala Negara asumsi kekuasaan presiden lebih kuat dan juga menyerap peran sebelumnya yaitu Perdana Menteri.

Dari deklarasi awal mereka kemerdekaan Indonesia mengklaim Papua Barat sebagai bagian dari bangsa mereka, tetapi Belanda memegang ke tahun 1960-an, dan pada awal tahun enam puluhan ada konflik bersenjata lebih lanjut atas wilayah itu. Setelah kesepakatan damai yang ditengahi PBB, dan referendum, Papua Barat menjadi bagian dari Indonesia dan berganti nama sebagai Irian Jaya, yang artinya Ikut (bagian dari) Republik Indonesia, Anti Belanda. Tetapi sekarang ini hanya disebut Papua.

Selama sesudah perang dan periode perang dingin Sukarno membuat kemajuan ramah ke Amerika Serikat, Uni Soviet dan kemudian, Cina. Dia juga mencoba untuk memutar salah satu terhadap yang lain ketika ia berusaha untuk membangun bangsa sebagai negara non-blok. Banyak yang cemas pasca perang dingin, Sukarno mau terlibat dalam dialog yang intim dengan Soviet, juga diterimanya bantuan sipil dan militer, peralatan, dan bantuan teknis dari Uni Soviet. Sukarno secara terbuka menyatakan bahwa pertunangannya dengan Soviet adalah untuk membantu dalam mempromosikan baru Republik Indonesia sebagai negara pasca perang Nonblok dan untuk membantu dalam membangun kembali bangsa setelah perang Pasifik. Pada saat ini AS berusaha untuk mengkonsolidasikan kontrol mereka atas kepentingan daerah dan strategis di Asia Tenggara dan Indo-Cina.

AS, berhadapan dengan negara kepulauan tampaknya tangguh dalam nasionalisme. Indonesia berusaha untuk mendapatkan dan mempertahankan kontrol atas sumber daya penting dan rute pengiriman wilayah tersebut. Mereka melihat Indonesia sebagai negara yang berpotensi tidak stabil dan dalam kekosongan kekuasaan yang tersisa di bangun dari kekalahan Jepang di Indonesia. Belanda, bangsa mereka dilanda perang Eropa tidak dapat sepenuhnya merebut kembali koloni mereka dan mempertahankan kontrol atas pasang naik nasionalisme Indonesia.

Belanda juga menjadi sasaran tekanan dari AS dan pemerintah barat lainnya selain masalah besar mereka sendiri di rumah. AS diam-diam mendukung kegiatan Sukarno anti dan operasi untuk mengacaukan gerakan nasionalis. Pada 1957-1958, CIA menyusup senjata dan personil untuk mendukung pemberontakan daerah melawan Sukarno. Tindakan rahasia pada saat ini menyebabkan penangkapan seorang pilot Amerika dan sebuah pesawat. Kegiatan melibatkan penggunaan kekuatan tentara bayaran serta dukungan materi dan keuangan dari pemberontak. Pendanaan, lengan, dukungan logistik dan pelatihan disediakan secara terselubung oleh AS karena perpecahan faksi, elemen sayap kanan, dan kelompok-kelompok Islam radikal termasuk Darul Islam dalam upaya untuk mendapatkan AS dan kontrol barat nasionalisme Indonesia. Tindakan didukung dari kedutaan besar AS di Singapura, berdasarkan unsur-unsur armada ke-7 AS yang ditempatkan Sulawesi dan Sumatra dan dengan kerjasama dan dukungan dari pemerintah Inggris dan badan-badan intelijen Barat.

Kekuasaan Baru

Pada tahun 1965, dalam keadaan sangat kontroversial dan membingungkan yang melibatkan sebuah kudeta militer, Sukarno, yang dikenal karena dukungannya terhadap nasionalisme dan kemerdekaan Indonesia yang terlantar akibat Suharto, seorang jenderal militer dengan pandangan anti komunis yang kuat. Suharto awalnya bertugas di angkatan pendudukan Jepang mendukung kepolisian, kemudian ia memasuki PETA (Pembela Tanah Air) dan melanjutkan untuk melatih di Jepang yang dipimpin angkatan bersenjata Indonesia dari masa pendudukan. Dalam periode pasca perang diyakini ia jatuh di bawah pengaruh AS dan patronase dan dengan dukungan mereka ia dan pendukungnya naik dalam sosok dan pengaruh.

Kudeta

Pada September 1965 enam jenderal dibunuh dalam upaya kudeta jelas. Penculikan dan pembunuhan berikutnya terjadi dalam situasi yang sangat mencurigakan dan rekening resmi agak membingungkan telah ditemukan sangat tersangka. Sekelompok perwira senior termasuk komandan militer Letnan Jenderal Ahmad Yani tampaknya telah semakin bertentangan dengan aliansi petugas sayap kanan termasuk Suharto. Petugas yang dibunuh adalah mendukung Sukarno dan menampung hubungan Presiden dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Subandrio, Menteri Luar Negeri Sukarno, wakil perdana menteri kedua dan kepala intelijen, 1960-1966 telah menyusup ke agen pertemuan rahasia jenderal sayap kanan merencanakan penggulingan Sukarno.

Hal ini diyakini ia mungkin telah diendapkan pemberontakan dengan merilis informasi tentang hal ini tetapi rincian masih belum pasti. Pemberontakan dilaporkan antara unit di Jawa Tengah, unit angkatan udara di Halim pangkalan angkatan udara dan angkatan bersenjata unit yang menduduki Lapangan Merdeka, bagian strategis dari ibukota. Apa yang disebut “kelompok 30 September” pemimpin mengklaim pasukan hadir di Lapangan Merdeka adalah untuk melindungi Presidensi dari pemberontakan yang direncanakan akan segera diatur oleh sekelompok jenderal yang didukung oleh CIA.

Jenderal Suharto kemudian dilaporkan memadamkan tindakan ini dalam angkatan bersenjata dalam satu hari. Para petugas sayap kanan yang kemudian naik ke tampuk kekuasaan mengutuk pembunuhan perwira tentara senior dan mengklaim pemberontakan yang melibatkan unit militer karya komunis. Karena semakin dokumentasi muncul dari arsip Barat tampaknya semakin jelas bahwa acara ini panggung berhasil memungkinkan Suharto kesempatan untuk kemudian mengklaim kepemimpinan. Pada tahap awal Suharto menyalahkan pembunuhan pada sekelompok pemuda PKI yang menghasut anak mudah, perempuan dan “unsur-unsur dari Angkatan Udara”.

Pembersihan

Pembunuhan itu kemudian harus disalahkan pada PKI, komunis dan gerakan 30 September, ironisnya kelompok yang sama yang telah mengaku datang bersama-sama dalam upaya untuk menggagalkan sayap kanan kudeta. Suharto awalnya mengaku mendukung Presiden Sukarno tapi kemudian merebut kekuasaan sendiri, meminggirkan Sukarno, menyatakan Orde Baru (Orde Baru). Serangkaian pembersihan anti-komunis berdarah kemudian memprakarsai menyebabkan kematian 500,000-2,000,000 orang (perkiraan bervariasi). Pemerintah Barat menutup mata terhadap pembantaian dan mereka tetap substansial dilaporkan di Barat untuk waktu yang cukup. Banyak sejarawan telah sejak gudang cahaya pada keterlibatan badan intelijen AS dan tingkat yang lebih rendah kontak bersama mereka di Inggris, intelijen Jerman dan Jepang dalam keadaan menjelang perebutan kekuasaan oleh Suharto dan pembersihan pembunuh berikutnya.

Suharto dan Reformasi berikutnya

Ketika informasi mengenai pembunuhan yang meluas akhirnya dibebaskan, semuanya hanya diselimuti misteri. Badan-badan intelijen AS dan CIA kemudian ditemukan terlibat dalam memasok nama dan alamat anggota PKI kepada tentara Indonesia, Suharto koperasi dan CIA yang didanai regu kematian Muslim, yang diburu kaum kiri bawah dan membunuh mereka. Diklasifikasikan file AS sejak menunjukkan bahwa pemerintah AS memberikan bantuan rahasia untuk Suharto dan regu kematian untuk melakukan pembersihan luas di seluruh Indonesia. Menyusul kenaikan Suharto berkuasa, kepentingan AS di wilayah itu aman dan pengaruh mereka atas RI dan sumber daya bangsa terus ke dalam abad baru.

Di bawah Suharto 1966-1997, Indonesia menikmati stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, tetapi sebagian besar kekayaan terkonsentrasi di tangan kecil, korup, elit dan perbedaan pendapat secara brutal dihancurkan. Selama krisis ekonomi Asia pada tahun 1997 nilai rupiah Indonesia anjlok, mengurangi separuh daya beli masyarakat Indonesia. Dalam pergolakan kekerasan berikutnya, yang sekarang dikenal sebagai Reformasi, Soeharto dijatuhkan dan rezim yang lebih demokratis.

Setelah Reformasi 1998

Bekas koloni Portugis di Timor Timur dianeksasi oleh Indonesia pada tahun 1975, tapi ada perlawanan bersenjata. Setelah beberapa dekade pemerintahan Indonesia, pada tanggal 30 Agustus 1999, referendum provinsi kemerdekaan disetujui oleh rakyat Timor Timur. Indonesia enggan melepas, herannya menerima hasilnya (meskipun milisi tentara protes dengan menjarah ibukota Dili), dan Timor Timur merdeka pada tahun 2002.

Satu gerakan separatis yang lebih keras terjadi di negara taat Islam Aceh di ujung utara Sumatera. Setelah puluhan tahun pemberontakan dan pembicaraan gagal, kebuntuan itu dipecahkan oleh tsunami tahun 2004, yang menewaskan lebih dari 200.000 orang di Aceh. Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (Gerakan Aceh Merdeka, GAM) menandatangani perjanjian perdamaian tahun depan, dengan Aceh menyerah berjuang untuk kemerdekaan dalam pertukaran untuk yang diberikan otonomi khusus termasuk hak untuk memberlakukan Syariah (hukum Islam), dan sampai saat ini perdamaian telah digelar.

Pada tahun 2004 Indonesia mengadakan pemilu pertama di mana orang-orang secara langsung memilih presiden dan wakil presiden. Presiden Indonesia mungkin saat ini melayani maksimal dua kali berturut-turut lima tahun. Saat ini Indonesia merupakan salah satu dunia demokrasi terbesar dan akan melalui periode reformasi sulit dan penemuan kembali mengikuti Reformasi dan lembaga pemerintah yang terpilih secara demokratis. Untuk membantu dalam transformasi dari tahun kontrol terpusat dibawah rejim Soeharto peran pemerintah daerah dan provinsi telah diperkuat dan ditingkatkan. Proses pemilu di Indonesia memiliki tingkat partisipasi yang tinggi dan sifat dan pemerintahan buatan juga administrasi secara perlahan berubah di seluruh Indonesia. Perubahan bangsa sejak jatuhnya Suharto juga telah ditandai dengan kebebasan yang lebih besar berbicara dan pengurangan besar-besaran dalam sensor politik yang menjadi ciri dari era Orde Baru Soeharto. Ada debat politik yang lebih terbuka di media berita serta dalam wacana umum, politik dan debat sosial.

Masyarakat Indonesia

Meskipun 50 tahun mempromosikan Bhinneka Tunggal Ika (“Bhinneka Tunggal Ika”) sebagai moto resmi negara, konsep sebuah “Indonesia” masih buatan dan warga negara membagi diri sepanjang membunuh besar etnis, suku, suku dan bahkan kasta. Jika ini tidak cukup, perbedaan agama menambahkan bahan yang mudah menguap ke dalam campuran dan kesenjangan besar dalam kekayaan menciptakan masyarakat kelas juga. Pada skala numerik murni, kelompok etnis terbesar adalah Jawa (45%) dari Jawa tengah dan timur, Sunda (14%) dari Jawa Barat, Madura (7,5%) dari pulau Madura, dan Pantai Melayu (7,5 %), sebagian besar dari Sumatera. Hal ini membuat 26% untuk Aceh dan Minangkabau Sumatera, Bali, Iban dan Dayak dari Kalimantan, dan tambal sulam membingungkan kelompok di Nusa Tenggara dan Papua – total resmi tidak kurang dari 3000!

Untuk sebagian besar, banyak orang di Indonesia hidup berdampingan dengan gembira, namun konflik etnis yang terus bercokol di beberapa daerah terpencil di negeri ini. Kebijakan transmigrasi (transmigrasi), diprakarsai oleh Belanda tapi diteruskan oleh Suharto, dipindahkannya orang Jawa, Bali dan pendatang Madura ke bagian terpencil Nusantara. Para pemukim baru, dipandang sebagai hak istimewa dan sensitif, sering dibenci oleh rakyat pribumi dan, terutama pada Kalimantan dan Papua, menyebabkan konflik, bahkan kadang-kadang kekerasan.

Satu kelompok etnis terutama terkenal ditemukan di seluruh negeri adalah Cina Indonesia, yang dikenal sebagai Tionghoa atau agak menghina cina. Pada sekitar 6-7 juta dari mereka membuat 3% dari populasi dan mungkin merupakan kelompok etnis Cina terbesar di negara manapun di luar China. Tionghoa Indonesia memegang pengaruh yang tidak proporsional dalam perekonomian, dengan satu yang terkenal – jika sebagian besar didiskreditkan – Studi perusahaan di Bursa Efek Jakarta menyimpulkan bahwa sebanyak 70% dari perusahaan-perusahaan (dan, dengan ekstensi, negara) yang dikendalikan oleh etnis Cina.

Mereka dengan demikian tunduk pada penganiayaan, dengan Cina dipaksa pindah ke daerah perkotaan pada tahun 1960, dipaksa untuk mengadopsi nama dan larangan Indonesia yang dikenakan pada pengajaran bahasa Cina dan menampilkan karakter Cina. Pogram anti-Cina juga terjadi, terutama di 1965-1966 pembersihan anti-komunis setelah kudeta Soeharto dan lagi pada 1998 setelah kejatuhannya, ketika lebih dari 1.100 orang tewas dalam kerusuhan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Namun, pemerintah pasca-Reformasi telah terbalik sebagian besar undang-undang yang diskriminatif, dan tulisan Cina dan festival Cina telah membuat munculnya kembali, dengan Tahun Baru Cina yang telah dinyatakan sebagai hari libur umum nasional sejak 2003. Sementara sebagian besar Jawa Cina monolingual di Indonesia, banyak orang Cina di Sumatra dan Kalimantan terus berbicara berbagai dialek Cina.

Kebudayaan Indonesia

Tidak ada namanya satu kesatuan budaya Indonesia, tapi budaya Hindu dari bekas kerajaan Majapahit tidak menyediakan kerangka kerja untuk banyak tradisi budaya yang ditemukan di pulau-pulau utama seperti Sumatera, Jawa, Bali dan Lombok. Mungkin yang paling khas seni “Indonesia” adalah wayang kulit, di mana menceritakan potongan rumit dan rinci adegan dari Mahabharata dan Ramayana dan cerita rakyat populer lainnya. Wayang didampingi dengan orkestra gamelan, biasanya diadakan dalam rangka upacara keagamaan dan hiburan tradisional. Kebudayaan Indonesia adalah terkait dengan orang Melayu, termasuk barang-barang penting seperti kain batik dan keris belati, dan budaya Arab juga telah diadopsi berkat perkembangan Islam.

Budaya modern populer Indonesia sebagian besar didominasi oleh kelompok etnis terbesar, orang Jawa. Larangan Suharto impor Barat seperti rock’n’roll, sudah lama dicabut, menyebabkan perkembangan dari bentuk-bentuk asli dari musik seperti dangdut, bentuk gerah pop dikembangkan pada 1970-an, dan menyodorkan panggul televisi dari bintang muda Inul Daratista pada tahun 2003 yang hampir sama kontroversial seperti Elvis dulu. Anggun Cipta Sasmi adalah penyanyi Indonesia berbakat yang menjadi seorang penyanyi terkenal di Prancis. Single “La neige au Sahara” menjadi hit teratas di tangga lagu Eropa pada musim panas 1997.

Kebanyakan film Indonesia adalah film anggaran B rendah. “Daun di Atas Bantal” (1998) adalah pengecualian; memenangkan “film terbaik” penghargaan di Festival Film Asia Pasifik di Taipei, Taiwan (1998). The Raid, Redemption (Indonesia: Serbuan Maut), dan juga dikenal sebagai The Raid dirilis pada tahun 2011 di Toronto International Film Festival dan memiliki distribusi internasional. Film action Indonesia ini memiliki anggaran produksi 1.100.000 £ Itu ditulis dan disutradarai oleh Gareth Evans (UK) dan dibintangi Iko Uwais. Evans dan Uwais merilis film aksi pertama mereka, Merantau pada tahun 2009.

Kedua film menampilkan seni bela diri tradisional Indonesia Pencak Silat. Sastra Indonesia belum membuat banyak kemajuan di panggung dunia, dengan karya-karya obor pembawa Pramoedya Ananta Toer lama dilarang di tanah airnya sendiri, tetapi era pasca-Soeharto telah melihat ledakan kecil dengan Saman Ayu Utami melanggar kedua tabu dan catatan penjualan.

Agama Di Indonesia

80-88% dari penduduk Indonesia menyatakan agama mereka sebagai Islam (Sunni) membuatnya menjadi secara angka menjadikannya agam terbesar dan Indonesia adalah negara mayoritas Muslim terbesar di dunia. Namun demikian, Indonesia secara resmi tetap menjadi negara sekuler. Meskipun ortodoksi agama yang berbeda-beda di kepulauan Indonesia ketaatan yang ketat dari kode pakaian Islam jelas di beberapa negara umumnya tidak ada. Di kota-kota besar jilbab dan manifestasi yang jelas dari iman pengecualian daripada aturan. Di beberapa wilayah regional dan negara yang taat hal Aceh dapat jauh lebih ketat. Bahkan, meskipun secara nominal Muslim, banyak cerita dan adat istiadat yang Hindu, Budha atau animisme berasal lokal dijaga dengan baik oleh sebagian besar penduduk.

Empat agama yang diakui di Indonesia lainnya adalah Protestan (5%), Katolik Roma (3%), Hindu (2%) dan Budha (1%). Hindu terkonsentrasi pada Bali, sementara orang-orang Kristen kebanyakan ditemukan di sebagian Sumatera Utara, Papua, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Buddhisme, di sisi lain, terutama dilakukan oleh etnis Cina di kota-kota besar. Ada juga animisme di seluruh negeri.

Hukum nasional Indonesia menetapkan bahwa semua warga negara Republik harus menyatakan agama mereka dan bahwa agama dinyatakan harus menjadi salah satu dari lima yang resmi disetujui oleh negara, tapi setelah reformasi, Konfusianisme sekarang diakui (sebelumnya itu disamakan dengan Buddhisme, Protestan dan Katolik Roma), sayangnya tidak untuk Ahmadiyah Islam dan Syiah. Hal ini menyebabkan distorsi jelas. Sebagai contoh, banyak praktisi animisme menyebut diri mereka Muslim atau Kristen untuk kepentingan birokrasi negara dan banyak umat Islam di daerah pedesaan juga memiliki cara hidup tradisional mereka yang sangat mempengaruhi praktek mereka dari Islam.

Hari Libur Di Indonesia

Indonesia yang Multikultural merayakan berbagai macam raya keagamaan dan festival, tetapi banyak yang terbatas pada daerah kecil (misalnya, festival Hindu Bali). Berikut ini meliputi hari libur nasional diterapkan terlepas dari keyakinan mereka.

Musim yang paling signifikan dari tahun adalah bulan puasa Ramadhan. Selama 30 hari yang, Muslim yang taat menahan diri dari lapar dan dahaga (makanan, minuman, asap) mulai matahari terbit hingga terbenam. Orang bangun pagi untuk hal-hal diri sebelum matahari terbit (sahur), pergi bekerja terlambat, dan lepas landas awal untuk kembali pulang pada waktunya untuk berbuka puasa (buka puasa) saat matahari terbenam. Non-Muslim, serta Muslim bepergian (musafir), dibebaskan dari puasa tetapi sopan untuk menahan diri dari makan atau minum di depan umum. Banyak restoran tutup pada siang hari dan orang-orang yang tetap terbuka (misalnya, restoran hotel),hanya saja dengan tirai yang menutupi jendela. Selama Ramadan, semua bentuk kehidupan malam termasuk bar, klub malam, karaoke dan panti pijat dekat tengah malam, dan (terutama di daerah lebih saleh) beberapa memilih untuk tetap tertutup seluruhnya. Pelancong bisnis akan melihat bahwa benda bergerak dengan kecepatan yang lebih dari biasanya glasial dan, terutama menjelang akhir bulan, banyak orang akan mengambil cuti.

Puncaknya pada akhir bulan atau hari Idul Fitri (juga dikenal sebagai Lebaran), ketika hampir seluruh negara mengambil satu atau dua minggu cuti untuk kembali ke rumah untuk mengunjungi keluarga. Di Indonesia ritual ini dikenal sebagai mudik, yang berarti pulang. Ini adalah salah satu waktu dalam 1 tahun ketika Jakarta tidak memiliki kemacetan lalu lintas. Tetapi seluruh negara tidak, dengan semua bentuk transportasi yang selalu penuh sesak. Semua kantor pemerintah (termasuk kedutaan) dan banyak bisnis tutup selama seminggu atau bahkan dua, dan berkeliling Indonesia sebaiknya dihindari jika mungkin.

Hari libur Muslim lainnya termasuk Idul Adha (hari kurban), Isra Mi’raj Muhammad SAW, Hijrah (tahun baru Islam) dan Maulid Muhammad SAW. Libur Kristen termasuk Natal, Hari Kenaikan, Jumat Agung, sedangkan Tahun Baru Hindu Nyepi (Maret-April) dan Buddha mendapatkan hari libur untuk Imlek (Tahun Baru Cina) Januari-Februari dan Waisak (ulang tahun Buddha), dirayakan dengan prosesi di sekitar Borobudur. Liburan ke non-agama termasuk Tahun Baru (1 Januari) dan Hari Kemerdekaan (17 Agustus).

Tanggal dari banyak liburan yang ditetapkan menurut berbagai kalender lunar dan tanggal sehingga berubah dari tahun ke tahun. Departemen Tenaga Kerja dapat mengubah tanggal resmi hari libur jika mereka dekat dengan akhir pekan. Ada hari resmi lain cuti untuk pekerja, yang disebut cuti bersama (mengambil hari libur bersama-sama), yang kadang-kadang dekat dengan hari raya Idul Fitri.

Iklim Di Indonesia

Iklim di Indonesia sebagian besar hangat, dan udara basah. Iya, Indonesia adalah tempat yang hangat. Tidak memiliki musim semi, musim panas, musim gugur, atau musim dingin, hanya dua musim: hujan dan kering, yang keduanya relatif (masih hujan selama musim kemarau, itu hanya hujan kurang). Meskipun ada variasi regional yang signifikan, di sebagian besar negara (termasuk Jawa dan Bali) musim kemarau adalah April sampai Oktober, sementara musim hujan adalah November sampai Maret.

Di dataran tinggi suhu secara alami akan lebih dingin, dan ada puncak bahkan tertutup salju di Papua, di atas gunung pada ketinggian 5000m. Membawa jaket tebal sangat direkomendasikan jika berencana untuk mengunjungi dataran tinggi, misalnya, Gunung Bromo di Jawa atau Tana Toraja di Sulawesi.

Zona Waktu Indonesia

Karena negara ini sangat besar, Indonesia dibagi menjadi tiga zona waktu:

GMT +7: Waktu Indonesia Barat (WIB)

  • Sumatra, Java, Kalimantan Tengah Dan Barat

GMT +8: Waktu Indonesia Tengah (WITA)

  • Bali, Kalimantan Selatan Dan Timur, Sulawesi, Nusa Tenggara

GMT +9: Waktu Indonesia Timur (WIT)

  • Maluku, Papua

Area Di Indonesia

Bangsa Indonesia hampir tak terbayangkan luasnya: Lebih dari 17.000 pulau menyediakan 108.000 kilometer garis pantai. Jarak antara Aceh di Barat dan Papua di Timur lebih dari 4.000 km (2.500 mil), sebanding dengan jarak antara New York City dan San Francisco. Berbaring di tepi barat Cincin Api Indonesia memiliki lebih dari 400 gunung berapi, yang 130 dianggap aktif, serta banyak gunung berapi bawah laut. Pulau New Guinea (di mana provinsi Papua, Indonesia terletak) adalah pulau terbesar kedua di dunia.

Sumatra (Termasuk Kepulauan Riau Dan Bangka-Belitung); Liar dan kasar, pulau terbesar ke-6 di dunia memiliki kekayaan alam dan budaya yang besar dengan lebih dari 40 juta jiwa. Habitat bagi banyak spesies yang terancam punah.

Kalimantan (Borneo); Sebagian besar dari pulau ini, pulau terbesar ketiga di dunia, ditutupi oleh provinsi Indonesia. Hutan yang belum dipetakan, sungai besar, rumah orangutan, surga bagi petualang.

Jawa Dan Madura; Jantung negara Indonesia, kota-kota besar termasuk ibukota Jakarta, dan banyak orang terkonsentrasi di sebuah pulau yang tidak terlalu besar. Di Jawa banyak khasanah budaya seperti di kota Yogyakarta, Borobudur dan Prambanan.

Bali; Sejauh ini, Bali adalah tujuan yang paling populer di Indonesia, Budaya Bali yang unik, pantai legendaris, daerah dataran tinggi yang spektakuler dan kehidupan bawah laut yang unik membuatnya menjadi favorit diantara wisatawan global.

Sulawesi (Celebes); Berbentuk aneh, pulau ini memiliki banyak keragaman masyarakat dan beberapa pemandangan spektakuler, budaya Toraja, flora dan fauna yang kaya, salah satu tempat menyelam terbaik di dunia.

Nusa Tenggara; Juga dikenal sebagai Kepulauan Sunda Kecil, yang “Kepulauan Tenggara”, mengandung sejumlah kelompok etnis, bahasa dan agama, serta Komodo juga tempat menyelam yang spektakuler.

Maluku; Kepulauan Rempah-Rempah yang bersejarah, diperebutkan sampai hari ini, sebagian besar belum diselidiki dan hampir tidak diketahui oleh dunia luar.

Papua; Bagian barat pulau New Guinea, dengan pegunungan, hutan, rawa-rawa, sebuah padang gurun yang hampir tak tertembus di salah satu tempat terpencil di bumi.

Kota Besar Di Indonesia

  • Jakarta — Kota paling padat di Indonesia, juga ibukota negara.
  • Bandung — Kota pelajar yang ada di dataran tinggi dingin Jawa
  • Banjarmasin — Kota terbesar di Kalimantan dengan warisan arsitekturnya yang kaya
  • Manado — Kota Kristen di ujung timur laut Sulawesi, yang terkenal untuk menyelam
  • Medan — Kota utama di Sumatra.
  • Semarang — Ibukota Jawa Tengah, dengan paduan Jawa, Cina, dan pengaruh Belanda
  • Makassar (Ujung Pandang) — Pintu gerbang ke Sulawesi
  • Yogyakarta — Pusat budaya Jawa dan titik akses ke candi Prambanan dan Borobudur
  • Jayapura — Ibukota Papua dan pintu gerbang ke dataran tingginya

Destinasi Populer Di Indonesia

  • Lembah Baliem – Jalur trekking yang luar biasa ke area suku Lani, Dani dan Yali, suku – suku di daerah terpencil Papua.
  • Borobudur – Salah satu candi Budha terbesar di dunia yang terletak di provinsi Jawa Tengah; sering dikombinasikan dengan kunjungan ke reruntuhan Hindu yang sama mengesankannya di dekat Prambanan.
  • Bromo-Tengger-Semeru National Park – Beberapa pemandangan gunung berapi paling menakutkan di planet ini dan salah satu tempat terbaik di dunia untuk melihat matahari terbit.
  • Bunaken – Salah satu yang terbaik scuba diving tujuan di Indonesia, bahkan dunia.
  • Kerinci Seblat National Park – Harimau, gajah, bunga rafflesia mengerikan dan banyak lagi di hamparan besar hutan ini di Sumatera.
  • Komodo National Park – Rumah komodo dan ekosistem lautnya yang sangat penting.
  • Danau Toba – Danau vulkanik terbesar di dunia.
  • Lombok – Pulau yang populer di sebelah timur Bali dengan dengan pulau kecilnya Gili, juga Gunung Rinjani dan masih banyak lagi.
  • Tana Toraja – Wilayah dataran tinggi Sulawesi Selatan terkenal karena upacara pemakaman yang luar biasa.

Destinasi Budaya Dan Sejarah Di Indonesia

  • Keraton Kasunanan Surakarta

Cerita Perjalanan Keluarga Asal Malang Keliling Indonesia dengan Campervan

Kelilingindonesia.online, Jakarta – Traveling ke beberapa negara dengan menggunakan mobil model Campervan kian mudah ditemukan di negara Barat. Hal tersebut bahkan telah menjadi gaya hidup sekaligus lebih hemat, karena tidak perlu menyewa hotel, traveler sudah bisa beristirahat di mobil besar tersebut.

Berbeda dengan di Indonesia, saat ini belum banyak yang melakukan hal tersebut, berkeliling dengan mobil berukuran jumbo. Salah satunya terbaru dilakukan oleh keluarga Donny Kris, seorang pengusaha kuliner dan juga IT dari Malang, Jawa Timur.

Baca Juga : 6 Bulan Keliling Indonesia Habis Rp 15 Juta, Yudha Diikuti Setan

Bersama istri dan empat anaknya yan kebetulan homeschooling, mereka keliling Indonesia dengan menggunakan VW Transporter yang dimodifikasi menjadi Campervan.

“Pertama saya terinspirasi dengan mobilnya dulu, yakni model Campervan VW Californian XXL. Itu waktu saya tanya di dealer harganya bisa sampai Rp4,5 miliar kalau import ke Indonesia. Akhirnya, saya bangun sendiri campervan mirip Californian XXL dengan bujet kurang dari Rp1 miliar dan hasilnya keren banget,” kata Donny Kris dalam keterangan tertulis yang diterima Kelilingindonesia.online, baru-baru ini.

Donny mengungkapkan, sudah lama ingin keliling dunia pakai Campervan. Ia kian semangat lagi saat liburan di Selandia Baru menggunakan campervan yang ia sewa di sana.

“Tapi belum bisa keliling dunia, saya baru aktivitas keliling Indonesia, itu pun mungkin belum sampai 20 persen wilayah Indonesia karena luas banget. Banyak spot menarik di Indonesia ini,” kata Donny.

Baca Juga : Ilham Saputra, Keliling Indonesia dengan Vespa Klasik

Donny saat ini sedang menuju menuju Sumbawa bersama campervan-nya. Dalam unggahannya dalam akun Instagramnya, ia menuliskan tentang penyeberangannya dari Lombok ke Sumbawa.

“Lega akhirnya bisa mnjejakkan ban di pulau Sumbawa. Penyeberangan dari Lombok ke Sumbawa kurang lebih 2 jam saja. Jauh lebih cepat dari Bali ke Lombok yg 5 jam,” tulis Donny, Senin, 16 September 2019.

Selain Sumbawa, Donny Kris juga berencana untuk menjelajahi Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi serta Papua. Tiga tahun ini ia ingin mengeksplorasi semua wilayah Indonesia, sebelum memikirkan untuk ke negara tetangga dan juga negara lainnya.

“Indonesia dulu. Karena di Indonesia banyak sekali spot indah dan terbaik. Jadi butuh waktu lama untuk ke negara lain,” ujar Donny.

Di kendaraannya itu juga ditempeli berbagai stiker, salah satunya Pesona Indonesia sebagai bagian dari branding Kementerian Pariwisata yang terus mengkampanyekan Pesona Indonesia.

Sambil keliling Jawa dan wilayah lainnya, ia juga membagikan merchandise berupa kaos, mug, stiker dan lainnya yang bertemakan “Indonesia Seindah Ini, Kamu di Rumah Saja?”

Selain itu, setiap berjumpa dengan masyarakat, Donny selalu menginspirasi orang akan kekayaan alam Indonesia. Selama dalam perjalannya, ia juga memantau bisnis oleh-olehnya di beberapa kota di Indonesia.

“Keliling sambil mantau bisnis juga. Anak-anak selalu ikut, kebetulan merekakan homeschooling semua. Jadi traveling juga sebagai sarana belajar bagi anak-anak saya mengenal lebih dekat sejarah, budaya, alam dan sebagainya,” tandas Donny yang memberi nama VW-nya @campvy yang digunakan sebagai tempat berbagi seputar perjalanannya.

6 Bulan Keliling Indonesia Habis Rp 15 Juta, Yudha Diikuti Setan

Kelilingindonesia.online – Tak semua orang bisa mewujudkan impiannya. Namun Ashari Yudha Pratama Putra termasuk salah satu yang beruntung. Pemuda berusia 24 tahun ini berhasil mengelilingi 27 provinsi di Indonesia semenjak Mei 2014 demi mewujudkan ambisinya berkeliling Nusantara sebelum 25 tahun pada 2016 ini. Mengelola akun Instagram @catatanbackpacker, Yudha pun banyak berbagi kisah.

“Akun @catatanbackpacker itu aku bikin sendiri sejak Februari 2015. Idenya dari diri sendiri karena saat itu aku berpikir kalau aku sudah berbulan-bulan keliling Indonesia dan sayang kalau nggak berbagi pengalaman. Aku selalu menyempatkan waktu untuk nulis entah sambil santai tidur-tiduran atau saat beres-beres. Bisa juga di sela-sela makan atau habis salat. Pokoknya harus ada waktu untuk mengelola akun itu karena itu adalah gallery kenangan perjalananku selama ini,” cerita Yudha.

Baca Juga : Ilham Saputra, Keliling Indonesia dengan Vespa Klasik

Mengaku bahwa pesan terakhir mendiang ayahnya untuk berkeliling Indonesia yang mempengaruhinya untuk jadi solo backpacker, Yudha rupanya sangat ingin berkunjung ke lembah Baliem di Wamena dan kepulauan Anambas. Sebagai solo traveller, Yudha pun merasa bebas bisa melakukan apapun. Lantas sudah berapa biaya yang dia keluarkan selama perjalanannya ini?

“Selama enam bulan perjalanan solo travelling, aku sudah habis Rp 15 juta all in. Kenapa mahal? Karena aku pindah-pindah terus setiap minggu dan jarang stay lama di satu lokasi. Palingan juga maksimal tiga minggu. Aku juga lebih suka tinggal di rumah penduduk karena bisa banyak dapat cerita sambil ngobrol dengan orang baru. Rasanya membuka pikiran karena kan isi pikiran tiap orang beda ya. Budget semua ini juga awalnya dari tabungan sendiri. Aku kan buka usaha servis laptop dan jual gorengan keliling kampus. Alhamdulillah sekarang banyak agen travel yang ngajak kerjasama,” lanjut Yudha bangga.

Baca Juga : Naik Vespa, Bu Guru Rucke Rukmawati Mampu Keliling Indonesia

Dalam wawancara by email dengan KapanLagi.cum beberapa waktu lalu ini, Yudha pun bercerita bahwa bisnis servis laptopnya pun harus berhenti sejenak karena dia sudah jadi full time traveller. Beruntung dia pun sudah menyelesaikan kuliah di Teknik Geologi Universitas Padjajaran Bandung. Lantas adakah pengalaman yang tak terlupakan selama jadi solo backpacker sejauh ini?

“Aku pernah disangka teroris saat ada bom meledak dan hampir masuk penjara. Pernah juga diikutin setan gara-gara nggak nurut sama hukum adat yang berlaku, serem! Emang sih selama travelling ada rasa kangen rumah. Palingan juga bakal telepon atau video call biar cukup ngobatin rasa rindu. Sejauh ini kesulitannya ya lebih ke makanan. Aku kan Muslim, jadi makan harus hati-hati. Sisanya aman semua. Soal biaya juga, kalau ada ayo jalan, kalau nggak ya jangan dipaksa. Meski kadang nekat sih. Pokoknya prinsipnya, ‘Yang penting sampai di tujuan, hidup di sana entah gimana nanti’,” tutup Yudha.

Ilham Saputra, Keliling Indonesia dengan Vespa Klasik

Jakarta – Selama hampir empat tahun, Ilham Saputra mengelilingi 31 provinsi di Indonesia dengan Vespa Klasik yang telah dimodifikasi. Sepanjang perjalanan dengan kecepatan 60 km/jam, Ilham menghabiskan 40-an ban bekas dan empat kampas kopling. Bagaimana kisahnya?

Tak ada persiapan khusus yang dilakukan Ilham untuk menjelajahi jalanan yang terjal dan tentu penuh risiko. Pemuda berusia 22 tahun ini hanya bermodal keyakinan dan keinginannya mengenal Indonesia lebih dekat.

“Persiapannya ya biasa saja, nggak ada ada persiapan khusus. Karena saya memang hobi modifikasi Vespa-Vespa bekas termasuk yang sudah hancur,” ungkap Ilham Saputra ketika ditemui di Kantor Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid), Semarang.

“Untuk biaya modifikasi dari modal pribadi dari hasil usaha di bengkel, jadi sopir dan lain sebagainya,” sebut dia tanpa menyebutkan jumlah nominal yang dihabiskan untuk memodifikasi Vespa.

Baca Juga : Lebih Mengenal Bangsa Kita, Dengan Naik Sepeda Motor Keliling Indonesia

Pemuda asal Cacangranda, Tiku Utara, Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Padang, Sumatera Barat ini menceritakan bahwa perjalanan mengelilingi Indonesia diawali dari Kilometer Nol di Sabang, Aceh pada September 2011.

Banyak kisah menarik saat mengarungi perjalanan di Kota Serambi Aceh. Ilham terpaksa harus melintasi daerah konflik, yang saat itu masih terdapat basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Selama perjalanan dia pun mendapatkan pengawalan dari komunitas klub asal Aceh yang lebih memahami medan.

“Atas saran teman-teman klub, saya melakukan perjalanan pada malam hari selama melintasi kawasan rawan konflik. Karena kalau jalan malam hari dinilai lebih aman,” ujarnya.

Dari Aceh, Ilham kembali menyisir jalanan di Kota Padang. Tak banyak kisah menarik di tempat kelahirannya ini. Karena itu, dia tak terlalu berlama-lama mengelilingi Padang.

Perjalanan dilanjutkan menuju Medan, Sumatera Utara. Dari Medan, Ilham langsung menyeberang ke Pulau Jawa, setelah melewati Lampung.

Selama mengelilingi kota-kota di Pulau Jawa dari Jawa Barat hingga Jawa Timur, tak sedikit jalanan menanjak dan terjal yang dilaluinya. Tak sedikit pula dia harus dibantu sesama klub Vespa mendorong motor modifikasi berukuran empat meter itu saat melintasi jalan tanjakan.
“Saat menanjak, motor jelas nggak kuat. Karena itu dibantu teman-teman mendorongnya,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Meski demikian, Ilham merasa sedikit terhibur karena berkesempatan mengunjungi objek-objek wisata di Pulau Jawa.

Dari Jawa, Ilham melanjutkan perjalananan menuju Bali dan Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT). Ada kejadian yang cukup tak mengenakkan saat dia menyisiri jalanan menanjak di kawasan Larantuka, Flores. Perjalanannya sempat dicegat sejumlah pemabuk.

“Saat di Larantuka ada sejumlah pemuda yang mabuk menghadang saya di jalan. Ya daripada berurusan panjang, saya kasih uang Rp30 ribu. Akhirnya bisa melanjutkan perjalanan,” ucap pemuda kelahiran 30 September 1992 ini.

Yang menarik, setelah dari Flores, Ilham sempat menginjakkan kaki di Timor Leste selama tiga jam.

“Di Timor Leste cuma tiga jam. Itu pun nggak terlalu masuk ke dalam kotanya, hanya di pinggiran dan sempat ngobrol dengan warga Timor Leste yang masih bisa berbahasa Indonesia,” ucapnya.

Baca Juga : Naik Vespa, Bu Guru Rucke Rukmawati Mampu Keliling Indonesia

Kisah yang tak kalah menarik saat perjalanan memasuki Sulawesi, tepatnya di Kota Manado. Di Ibu Kota Sulawesi Utara ini, Ilham sempat terlibat cinta lokasi dengan seorang gadis.

“Sempat kenalan dengan cewek Manado yang jualan di sebuah rumah makan,” ungkap Ilham sambil tersenyum.

Namun, menurutnya, kisah cinta lokasi itu hanya berumur dua minggu. Ilham pun melanjutkan kembali perjalanan menuju kampung halamannya, Padang.

Menuju Padang, Ilham kembali melewati Pulau Jawa. Kemarin, Ilham singgah di Kantor Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) di Jalan Berlian, Perumahan Intan, Semarang, Jawa Tengah.

Atas aksi uniknya dengan mengelilingi 31 Provinsi selama tiga tahun, Ilham Saputra mendapatkan piagam penghargaan dan medali dari Leprid.

Ilham Saputra, Keliling Indonesia dengan Vespa Bekas

Menurut Direktur Leprid Paulus Pangka, penghargaan dan medali diberikan kepada Ilham Saputra atas rekor mengelilingi Indonesia di 31 Provinsi dengan menggunakan satu unit scooter merek Vespa modifikasi nopol BA 7104 FL sejak 24 September 2011 (Sabang) hingga 8 Juli 2015 (Semarang).

“Inspirasi dia (Ilham Saputra) di setiap daerah yang dilewatinya menunjukkan harapan bahwa NKRI terdiri dari beragam suku, adat, dan budaya. Apaladi dia mau membuat buku kisah perjalanannya. Itu yang perlu diapresiasi,” kata Paulus Pangka.

Naik Vespa, Bu Guru Rucke Rukmawati Mampu Keliling Indonesia

Kalau rencana ke Papua setelah Lebaran kelak terlaksana, Rucke Rukmawati berarti telah bervespa ke wilayah ujung barat dan timur Indonesia. Tiap kali tur selalu bawa donasi atau barang yang bermanfaat bagi warga di tempat tujuan.

HARI – HARI ini hingga ke Lebaran nanti adalah hari-hari yang sibuk bagi Rucke Rukmawati. Berkeliling mengumpulkan donasi, menyetel Vespa, dan menyiapkan onderdil, selain tentu saja jadwal tetapnya mengajar.

Maklum, selepas Lebaran, bersama suami, Cakra Budi, guru seni rupa SMAN 15 Bandung itu bakal mewujudkan impian touring ke Papua. “Mudah-mudahan bisa terlaksana,” kata perempuan 57 tahun tersebut kepada Jawa Pos yang menemuinya di kediamannya di Bandung Senin lalu (30/4).

Kalau betul terlaksana, artinya, perempuan 57 tahun itu sudah menjelajah wilayah paling barat dan ujung timur Indonesia. Sebab, 18 tahun silam, dia sudah lebih dulu touring ke Aceh pada Desember 2017.

Dan, di antara kurun waktu itu, dia juga menjelajah berbagai kota di Jawa dan Sumatera. Semua dengan motor.

Baca Juga : Lebih Mengenal Bangsa Kita, Dengan Naik Sepeda Motor Keliling Indonesia

“Semua jenis motor sudah saya coba. Kami sekeluarga memang suka naik motor dari dulu,” kata ibu dua anak yang akrab disapa Mabu (Mamah Ibu) tersebut.

Bisa jadi Mabu adalah satu-satunya ibu guru di tanah air dengan hobi “seekstrem” itu. Di usia yang juga sudah tidak lagi muda.

Tapi, touring mengendarai motor memang sudah mendarah daging baginya. Telah dilakukannya jauh sebelum menikah. Sampai dia lupa kapan persisnya tur pertamanya.

Padahal, jadwalnya sebagai guru juga padat. Di rumahnya pada Senin siang lalu itu, misalnya, Mabu tengah menyortir puluhan lukisan hasil karya siswa untuk dipamerkan Itu bagian dari tugasnya sebagai guru seni rupa. Selain tentu saja kewajiban harus mengajar di kelas.

Karena itulah, touring biasa dia lakukan hanya saat libur panjang. Agar tak sampai meninggalkan kewajiban mengajar. “Kalau pas nggak libur panjang, paling hanya keliling kota atau tempat yang dekat-dekat saja.”

Di pelataran rumah yang asri di kawasan Buah Batu, Bandung, itu tampak pula 12 Vespa berjejer. Seluruhnya milik Mabu seke­luarga. Dari yang paling tua keluaran 1961 sampai yang terbaru rilisan tahun lalu.

Sejak sepuluh tahun lalu, untuk urusan motor, Mabu dan suami memang tak bisa berpaling ke lain hati. Hanya Vespa. Yang kemudian menular kepada kedua anak lelakinya. Tapi, kecintaan kepada Vespa itu tidak datang tiba-tiba. Bahkan, Mabu sempat melarang ketika suaminya berniat membeli Vespa.

“Pas pertama beli, suaranya kencang bener, terus asap knalpotnya tebel bener. Olinya netes ke mana-mana,” ungkapnya.

Mabu pun sempat meminta sang suami menjualnya kembali. Tapi, sang suami memutuskan membawanya ke bengkel. Dan, voila, sebulan kemudian, Mabu justru jatuh hati kepada si Vespa yang catnya telah berganti jadi ungu.

“Jadi bagus dan enak dikendarai. Karena warnanya ungu, akhirnya dipanggil unyu,” katanya, lantas tersenyum.

Saat berkeliling Aceh pada Desember tahun lalu sendirian, Vespa pula yang dikendarai Mabu. Persisnya jenis VBB 1964. “Pas sebelumnya ada gempa di daerah Pidie. Jadi, bawa sedikit bantuan ke sana,” terang dia.

Baca Juga : Ini Masukan Agar Traveler Bisa Keliling Indonesia Naik Mobil

Itulah salah satu alasan yang membuat Mabu doyan touring: kesempatan untuk berbagi atau menebar kebaikan. Ke mana pun dia tur, baik sendiri, dengan suami dan anak, maupun dengan komunitas Vespa, sebisanya dia membawa apa saja yang mungkin berguna di daerah tujuan.

“Minimal saya bawa mukena yang biasanya, lantas saya tinggal di masjid yang saya sambangi,” katanya.

Karena itulah, sebelum keberangkatan ke Papua setelah Lebaran nanti, dia giat mengumpulkan donasi. Terutama berupa seragam dan peralatan sekolah.

“Apa saja yang mungkin bermanfaat bagi daerah-daerah yang saya singgahi bersama suami nanti,” katanya.

Kecintaannya kepada touring dengan bersepeda motor tumbuh karena sejak kecil dia menyukai kegiatan luar ruang. Apa­lagi, setelah menikah, sang suami mendukung penuh kegiatannya tersebut.

Menurut dia, bersepeda motor membuatnya bisa menikmati pemandangan secara bebas. “Indonesia ini banyak sekali tempat indah yang bisa dinikmati sambil melakukan hal positif di tempat tersebut,” katanya.

Tempat mana yang paling mengesankan? “Semua,” katanya. Meski kadang menemui pengalaman yang menurut banyak orang mungkin menakutkan.

Di Mesuji, Lampung, misalnya. Suatu hari saat singgah di sana, Mabu harus mendinginkan motor yang biasanya butuh waktu dua-tiga jam.

Berhentilah dia di jalan yang sepi. Hanya satu dua mobil yang melintas. Mendadak ada seorang pria mendekat sembari membawa celurit.

Karena tak curiga, Mabu yang bepergian sendirian terus saja asyik memotret sekitarnya. Pria tersebut terus saja bolak-balik. “Ya, saya sapa. Dia juga balik menegur dengan pandangan yang terlihat aneh. Tapi, kemudian dia berlalu,” kenangnya.

Ketika dia kemudian menceritakan pengalaman tersebut kepada kawan-kawan sekomunitasnya, Mabu baru sadar bahwa kawasan tempat dia berhenti itu rawan begal. “Tapi, saya dari awal memang nggak ada pikiran curiga,” katanya.

Sesekali dia juga mengalami masalah dengan VBB 1964-nya. Namun, selalu ada saja kawan-kawan dari komunitas Vespa di kota yang disinggahi yang mengulurkan tangan untuk membantu.

Agar lebih siap menghadapi masalah dengan motor kesayangannya, Mabu pun perlahan belajar mengenai Vespa. Selama ini dia langsung belajar dari ahlinya, yaitu montir yang biasa dia panggil ke rumah.

“Awalnya bantuin montir. Sekarang montir datang, yang perbaikin saya hehehe.”

Di usia yang tak lama lagi mencapai kepala enam, Mabu mengaku tak tahu sampai kapan akan terus touring. Yang pasti, selama masih kuat, dia akan tetap melakukannya.

“Mudah-mudahan juga masih bisa terus keliling Indonesia pakai Vespa,” harapnya.

Lebih Mengenal Bangsa Kita, Dengan Naik Sepeda Motor Keliling Indonesia

Ahmad Yunus, jurnalis sekaligus petualang yang dulu menghebohkan lewat ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, mengisahkan ulang pada kami persiapannya keliling 100 pulau selama delapan bulan di atas roda dua.

Ahmad Yunus punya cara jitu menunjukkan kecintaannya pada Tanah Air. Bersama jurnalis senior Farid Gaban, Yunus muda— sepuluh tahun lalu—mencoba menjelajahi gugusan pulau-pulau terluar di Kepulauan Nusantara untuk mencari kisah tentang manusia-manusia biasa yang hidup di nusantara.

Orang-orang biasa adalah sebuah kontra narasi yang ingin Ia suguhkan di tengah kejengahan dan hiruk pikuk Pemilihan Presiden sepuluh tahun lalu. Tulisan Yunus yang dibukukan dengan judul Meraba Indonesia berhasil menjadi “kitab” sekaligus petunjuk, bagi pemuda yang terobsesi menjelajahi Indonesia pada masanya. Ekspedisi Yunus dan Farid juga menuai perhatian media massa, sampai akhirnya mereka berdua diganjar penghargaan Anugrah Tirto Adhi Soerjo atas sumbangsih liputan mereka dalam memajukan jurnalisme naratif di Tanah Air.

Baca Juga : Keliling Nusantara Tak Sekadar Mimpi!!!

Dengan motor 100 cc yang dimodifikasi alakadarnya, Yunus mesti menerobos jalan berbatu pesisir barat Sumatera, melewati jalanan gelap gulita Pegunungan Leuser, membelah jalur lintas Kalimantan yang tak pernah dilewati motor sebelumnya, naik turun kapal pengangkut sampai ke pulau yang tak pernah kita dengar namanya demi menemukan paradoks dari klaim-klaim klise soal Indonesia. Iya, Indonesia yang konon negara agraris dan berjaya di lautan. Dari perjalanan itu, Yunus, jurnalis di usia kepala tiga yang pernah menulis untuk Majalah Pantau dan aktif di Aliansi Jurnalis Independen, berusaha merekam suara-suara orang biasa yang di Jakarta abai didengar.

Sepuluh tahun berlalu. Kini Yunus bercerita kepada Kelilingindonesia.online mengenai kenangannya bersama motor butut modifikasi, kerinduannya pada petualangan saat usianya 20-an, hingga hasratnya untuk kembali bertualang.

Tim Keliling Indonesia : Halo Kang. Dari mana awalnya ide nekat keliling Indonesia bermula?

Ahmad Yunus: Cerita besarnya sih mau pakai kapal Phinisi, idealnya. Tapi mikir lagi pasti budgetnya jadi besar, logistiknya juga membesar, susah lah intinya. Akhirnya nekad pakai motor, itulah ajakan si Mas Farid Gaban. Kalau motornya waktu itu sudah disiapkan sama teman-teman. Pas lihat motornya langsung berpikir, “waduh ini pasti timbul masalah.”

Baca Juga : Ini Masukan Agar Traveler Bisa Keliling Indonesia Naik Mobil

Saat baca bukunya beberapa tahun lalu, Kang Yunus banyak membahas motor. Kenapa memilih motor untuk keliling Indonesia?

Sebab motor yang murah meriah praktis perawatannya, terus dipakai oleh kalangan paling bawah. Kalau enggak diapa-apain sebetulnya pakai itu motor enak banget. Nah ini dimodifikasi seperti motor trail. Sebetulnya bisa dipakai sebagai motor trail tapi paling untuk perjalanan pendek saja. Otomatis ada perubahan besar dari segi kelistrikannya, lampunya, joknya. Jadi ketika dibawa untuk perjalanan panjang maka itu jadi masalah besar, hahaha. Masalahnya sih kenyamanannya aja, kalau secara mesin atau rangka ya oke banget. Alasannya pakai motor jenis ini karena ringan jadi oleh dua orang motor ini gampang untuk dinaikin ke kapal, ketimbang pakai motor yang lebih besar. Lalu untuk dinaikkan ke kapal-kapal kecil juga oke, kapal ferry juga enggak makan tempat. Kalau pakai motor besar pasti repot.

Cerita apa yang paling diingat selama naik motor keliling Indonesia?

Soal kenyamanan itu yang terasa misalnya jok motornya. Kalau jok bawaan motor kan agak tebal yah, lalu dimodifikasi jadi trail otomatis lebih tipis, akhirnya sakit ke pantat kalau dipakai jarak jauh. Lalu mikir sambil perjalanan tuh lama-lama diganjel joknya pakai macam-macam mulai dari sarung, jaket. Awal-awal masih rapi, tapi perjalanan masuk bulan kedua ketiga dan seterusnya sudah mulai banyak yang kita tempelin di jok supaya lebih nyaman. Kadang saya ketawa aja sepanjang perjalanan, tapi karena ya memang enggak ada pilihan lain.

Rute yang seperti apa sih yang harus dilalui selama delapan bulan tersebut?

Dari Jakarta, ke Sumatra lalu keliling Kepulauan Natuna, terus ke Singkawang, turun terus ikutin jalur perutnya Kalimantan muter sampai Nunukan terus Tarakan. Nah dari situ motor kita kirim ke Flores. Mulai dari Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua itu sudah perjalanan laut semua. Jadi setengahnya pasti sudah laut semua. Setelah kami sampai di Flores, kita ketemu lagi dengan motor kita dan dari Flores sampai ke Jawa kita motoran lagi.

Saat itu apa sih yang ada di kepala ketika memutuskan keliling Indonesia naik motor?

Fokus ekspedisi ini pada awalnya ngomongin masyarakat di kepulauan-kepulauan terluar Indonesia dan isu lingkungannya. Dalam perjalanan ini akhirnya kita bisa melihat banyak hal. Pertama, yang menjadi kewajiban itu bebannya ada di Mas Farid untuk bikin buku foto tentang terumbu karang, tentang mangrove-nya. Di luar itu kita bebas mau mengeksplorasi cerita apa saja. Saya lebih tertarik untuk mendalami cerita soal manusia-manusianya.

Persiapan dari dana, gear, dan pengetahuannya bagaimana?

Kalau proyek ini terencana dengan baik kan bisa dihitung sebetulnya dari berapa lama perjalanannya, mau ke mana, dengan cara apa. Itu sangat menentukan proses budgeting. Waktu itu kita menghitungnya Rp500 ribu untuk seminggu. Dalam sebulan kebutuhan di lapangan sekitar Rp2,5 juta, jadi kalau selama 10 bulan kurang lebih 25 juta untuk perjalanan. Kenyataannya kalau dari segi bensin memang murah, lalu ngangkut motor di kapal memang mahal, kalau senang diving pasti akan lebih mahal lagi. Kalau menginap di penduduk ya enggak mahal pengeluaran, sisanya lebih untuk perawatan kendaraan.

Akankah jadi berbeda kalau petualangan itu enggak pakai motor?

Kita pakai motor itu karena murah, aksesnya lebih gampang untuk blusukan ke mana-mana. Manfaat motor sebetulnya mempermudah akses, menjangkau dari satu titik ke titik lain. Mungkin kalau dengan pesawat kita enggak akan merasakan yang namanya menembus perutnya Kalimantan yang jalannya di atas peta saja tidak ada, dan orang-orang lokal pun nggak banyak yang pernah menerobos jalur itu. Kami mengandalkan bertanya pada pedagang yang berkeliling dari kampung ke kampung, ternyata ada jalan tikus yang hanya bisa dilalui motor. Bisa saja keliling Indonesia pakai pesawat atau mobil, tapi nggak ada konektivitasnya, kita nggak bisa ngerasain panasnya, hujannya, debunya. Ini benar-benar ngerasain semua, nikmatnya perjalanan kerasa banget dan perjumpaan dengan orang-orang juga kerasa banget.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Pulau Jawa, apa saja perbedaan utama yang terlihat saat menyusuri pulau-pulau terluar Indonesia dibandingkan dengan Jawa pada umumnya?

Kejomplangan itu karena memang enggak pernah dilihat dan enggak pernah diurus saja. Saking besarnya Indonesia. Aku juga yakin setahun ekspedisi itu aku tidak melihat apa-apa tentang Indonesia. Kita melihat kurang lebih 50-100 pulau saat itu, ya nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan 17 ribu pulau. Gede banget Indonesia itu. Perjalanan itu akhirnya memunculkan pertanyaan-pertanyaan, “kita mikir gimana ya cara mengelolanya?”, atau “benar nggak sih selama ini sistem yang digunakan dengan mengurus semuanya dari Jakarta?” Kalaupun kita membayangkan otonomi daerah, otonomi yang seperti apa cocok buat Indonesia?” Dengan geografisnya, dengan masyarakatnya yang berbeda-beda, dengan kebiasaan yang berbeda juga. Jadi kita nggak bisa melihat hitam-putih Indonesia dengan sudut pandang dari sini (Jakarta), taraf hidup pun berbeda.

Setelah berkeliling dan melihat langsung, masalah apa sih yang dihadapi masyarakat Indonesia di pulau-pulau terluar?

Minimal, kami sepakat bahwa kebutuhan dasar masyarakat kita terpenuhi. Banyak kasus misalnya di suatu pulau, masyarakatnya biasa saja. Bukan mereka miskin, kita melihat potensi mereka dahsyat, misalnya perikanannya. Yang jadi masalah adalah pengolahan ikannya, misalnya ketersediaan esnya, bahan baku, kapal yang kecil. Jadi secara ekonomi mereka sanggupnya ya segitu-gitunya. Bukan karena nggak ada ikannya. Hampir dari seluruh perjalanan yang kami lewati, secara kasat mata saya bisa bilang Indonesia itu surga yang beneran surga. Perhatian ke sananya itu nggak pernah ada untuk menunjang ekonomi masyarakat, jadinya ya seada-adanya.

Buku Meraba Indonesia keluar bersamaan dengan tren backpacking di Indonesia waktu itu. Ada yang menilai tren tersebut problematik mengukur dari dampak yang dihasilkan buat masyarakat. Menurut Kang Yunus gimana tuh?

Kalau kita melihat sejarah kalangan backpackers itu ya dari kaum hippies yang mencoba untuk keluar dari kemapanan mereka terus melebur dengan masyarakat dan mencatat dengan apa adanya lewat Lonely Planet. Kita melihat tren backpacker makin naik ketika media sosial makin berkembang, kamera makin oke. Lalu mulai banyak juga media yang ngomongin tentang keindahan Indonesia itu sendiri. Tapi tahapannya masih dalam tahapan wow melihat Indonesia. Reaksinya itu masih tahap awal saja. Mungkin perubahan besarnya pas lagi ada program “Indonesia mengajar” dan program yang lainnya, di mana anak-anak muda berkumpul lalu disebarkan ke luar Jakarta untuk mengajar. Dari situ baru muncul sorotan terhadap aspek sosialnya. Baru dari situ mulai ada yang ngomongin toleransi, ngomongin pendidikan, kesehatan. Tren positifnya adalah menyadari bahwa ternyata banyak hal yang mesti kita benahi kalau ngomongin soal Indonesia.

Masuk ke kehidupan orang-orang biasa?

Iya, memperkuat suara orang-orang biasa. Salah satu medium yang kita gunakan dalam menceritakan perjalanan setahun itu adalah Facebook. Melihat interaksi antara saya di lapangan dan orang-orang lain (di sosial media), mereka terasa seperti dibukakan lembaran-lembaran tentang Indonesia lapis demi lapis. Cerita orang biasa itu bukan cerita yang mengawang-awang, tapi cerita keseharian kan. Waktu itu juga lagi menjelang Pilpres 2009 dan media lagi ramai wacana yang gede-gede, tiba-tiba kita memunculkan tema-tema kecil.

Soal nelayan, atau soal orang suku Bajo yang tidak bisa menyelam lagi karena banyak yang mengalami kelumpuhan akibat selam kompresor. Itu kan kasus yang nggak pernah dilihat media. Di saat ada wacana besar, tiba-tiba kita kayak kunang-kunang saja. Orang-orang itu ternyata ngikutin cerita kunang-kunang ini. Kami tidak berharap banyak, tapi minimal orang jadi ingat kembali dengan tema keindonesiaan tadi. Orang kembali bicara soal nasionalisme, tapi pertanyannya sebetulnya nasionalisme macam apa sih yang diinginkan ketika ide tersebut dibenturkan lagi pada cerita manusia yang kecil-kecil itu tadi.

Keliling Nusantara Tak Sekadar Mimpi!!!

Kelilingindonesia.online – Jakarta (Selasa, 19-05-2020), Backpacking identik dengan jalan-jalan menggunakan tas punggung, tanpa koper, dengan alokasi dana yang bisa ditekan seminimal mungkin. Gaya traveling seperti ini kian populer, terutama di kalangan milenial. Mereka yang berusia antara 18-34 tahun.

Tiket pesawat murah kelas ekonomi dan akomodasi ramah kantong bukan lagi impian. Tak heran, pelajar, mahasiswa, bahkan profesional muda rela terjaga hingga larut malam untuk berburu tiket, yang terkadang memberi penawaran hingga nol rupiah.

Tiket di tangan, tas punggung disambar, lalu terbang ke destinasi yang tercantum dalam catatan, The Bucket List! Pulau Weh di Sabang (Aceh), dataran tinggi Sembalun di Lombok (Nusa Tenggara Barat), Tana Toraja (Sulawesi Selatan), Talaud (Sulawesi Utara), sampai Raja Ampat (Papua).

Tapi, sebelum berangkat, persiapan apa saja yang harus kita pikirkan?

Pertama, siapkan mental. Anda bukan petualang? Tak masalah. Pastikan membawa tas punggung yang tahan air (water-resistant), dengan ukuran sesuai kebutuhan. Karena itu, penting menyeleksi isi tas. Kedua, pakai sepatu yang nyaman. Boleh sneakers atau sepatu lari. Jangan lupa selipkan sandal.

Travel wardrobe menjadi pertimbangan berikutnya. Sesuaikan busana, termasuk barang bawaan lainnya, dengan lokasi tujuan. Anda bisa membawa baju renang bila ke pantai atau jas hujan bila trekking masuk rencana perjalanan.

Keempat, benda-benda kecil bernilai tinggi seperti sabun, sampo, sunblock, tisu, hand sanitizer, dan kotak P3K-seluruhnya dalam botol kecil yang mudah diisi ulang-jangan sampai tertinggal. Juga vitamin dan obat.

Bagi solo traveler atau backpacker yang tergabung dalam kelompok kecil, berbagi kamar menjadi pilihan terbaik. Selain murah meriah, hostel atau penginapan “kapsul” memberi Anda kesempatan untuk mendapatkan teman baru. Tapi, jika ingin lebih privat, Anda bisa memesan kamar terpisah.

Mengunduh peta offline seperti Maps.Me dan Here WeGo sebelum memulai petualangan akan sangat membantu. Anda mungkin tidak mendapatkan sinyal atau Wi-Fi di semua tempat. Dan kamera menjadi benda paling krusial untuk mengabadikan momen, yang mungkin saja tidak akan terjadi dua kali sepanjang hidup.

Ini Masukan Agar Traveler Bisa Keliling Indonesia Naik Mobil

Jakarta – Dijamin pasti banyak dari kita yang mengaku warga negara Indonesia, tapi belum mengenal Indonesia seutuhnya, bahkan belum pernah berkunjung ke berbagai daerah Indonesia. Tentu bukan tanpa alasan tidak melakukan hal tersebut, mengingat luasnya wilayah Indonesia, mahalnya biaya untuk mengenal Indonesia, kesiapan mental, tidak ada waktu dan segudang alasan lainnya yang membuat banyak dari kita untuk tidak bisa melakukan perjalanan keliling Indonesia.

Tapi tidak untuk keluarga Kusmajadi yakni Abah Dodi Kusmajadi (47), Ambu Melati Muslaela Puteri (43), Abang Abdul Hakim Putra Kusmajadi (16) dan Dek Nara Sabiya Putri Kusmajadi (14), yang meninggalkan semua kehidupan mereka demi keliling Indonesia menggunakan truk Mitsubishi Fuso yang disapa Moti.

Memilih untuk melakukan perjalanan panjang hingga memakan waktu tahunan ini, memang sengaja dilakukan agar bisa belajar, merasakan hidup diberbagai wilayah Indonesia, lebih mengenal Indonesia, serta mensyukuri semuanya.

Namun perjalanan mereka untuk bisa keliling Indonesia menggunakan truk bukan tanpa masalah, hal ini coba mereka ungkapkan dan beri masukan kepada pemerintah. Agar setiap masyarakat Indonesia bisa lebih mengenal Indonesia, dengan cara melakukan perjalanan keliling Indonesia bersama keluarga dengan cara keliling Indonesia.

“Kesulitan apa yang dirasakan selama perjalanan? Mungkin bukan kesulitan kaliya, tapi catatan saja bagi pemerintah. Budaya Family Traveling ini akan menjadi tren,” ujar Abah.

“Ada yang menggunakan media lain seperti van, mobil atau motor. Seharusnya kalau kami diberikan wilayah parkir (di seluruh wilayah Indonesia-Red), air bersih, pembuangan air kotor ini sangat membantu. Kaarena ini semua belum ada sama sekali selama ini,” tambah Abah.

Meski demikian, Keluarga Kusmajadi tidak kalah akal untuk bisa tetap melanjutan perjalanan menggunakan truk untuk keliling Indonesia.

“Tapi kita bukan berarti tidak bisa. Karena masih ada masjid, SPBU, ada teman, saudara, ini jadi faktor lain untuk bisa tetap mendukung perjalanan kami,” ujar Abah.

Begitu juga perihal bahan bakar, Keluarga Kusmajadi menemukan fenomena unik di jalanan. Yakni disaat di SPBU bahan bakar dinyatakan habis. Ternyata hanya beberapa meter, sudah banyak pedagang bahan bakar minyak (BBM) yang menjual secara eceran.

“Kendala sendiri waktu di Sulawesi saat ingin mengisi bbm, kami-kan menggunakan solar, kalau dibandingkan dengan Dexlite ini (Solar) separuhnya (harganya-Red). Karena susah, akhirnya kita harus beli pertamina dex. Karena saat di SPBU kosong, tapi 1 meter keluar dari SPBU ada yang menjual secara eceran,” katanya.

Begitu juga dengan masalah keamanan. Memang keluarga Kusmajadi merasakan Indonesia sangat aman dan masyarakatnya sangat ramah-ramah. Karena disetiap perjalanan keliling Indonesia mereka selalu disambut baik. Namun tetapo saja mereka mengalami kejadian yang membuat Keluarga Kusmajadi tidak nyaman.

“Masalah keamanan, selama perjalanan kasus keamanan itu hanya kejadian di Bulukumba. Waktu itu kami menginap di pinggir jalan depan masjid. warga datang mereka melihat ini (perjalanan Keluarga Kusmajadi-Red) unik, warga datag dengan ramah. Kenapa di situ karena warga ramah, ada air bersih,” ujar Abah.

“Namun saat menunjukkan pukul 23.30 waktu setempat, tiba-tiba ada yang ketuk-ketuk pintu kami. dan marah-marah menggunakan bahasa daerah. Orang itu gedur-gedur mobil kami, saat itu kami tidak panik. Karena mobil kami seperti benteng yang memberikan keamanan. Kami tidak mengerti apa maksud dirinya mendatangi kami, namun selang beberapa lama, ada 3 orang yang mendatangi kami. Dan ternyata membujuk orang yang marah-marah tersebut untuk pergi,” kata Abah Dodi.

Abah Dodi menceritakan ternyata orang yang menyambangi dirinya tengah tidak menyadarkan diri karena mabuk. Namun berkat tiga orang yang datang tersebut, orang tersebut pergi meninggalkan keluarga Kusmajadi.

“Ternyata yang datang pertama kali ke kami itu tengah mabuk. Untung ada 3 orang yang kembali mendatangi kami, dan meminta orang tersebut pergi. Akhirnya orang tersebut pergi, dan ketiga orang tersebut meminta maaf atas kejadian ini,” cerita Abah Dodi.

20 Tahun Ismail Bersepeda Keliling Indonesia. Perjalanannya Belum Berhenti

Kelilingindonesia.online | MOJOKERTO – Ismail (48) mendedikasikan hampir separo umurnya untuk berpetualang mengelilingi Indonesia dengan menggunakan sepeda.

Pria asal Desa Cangko RT 7 RK II Blok Desa/Kecamatan Banggodua, Indramayu, Jawa Barat ini, memulai perjalanan berkeliling Indonesia sejak umur 20 tahun.

“Saya memulai berkeliling Indonesia tahun 1989 tepatnya tanggal 20 Juli. Waktu itu saya berkeliling dari Bali ke wilayah Timur Indonesia. Ini merupakan cita-cita saya sewaktu kelas 6 SD. Saya ingin menaklukan Nusantara dengan bersepeda,” katanya saat mengunjungi Media Center, Mojokerto, Selasa (11/9).

Selama 20 tahun, ia berhasil menyinggahi 298 kabupaten atau kota di Indonesia. Di setiap daerah yang disinggahi, Ismail mengumpulkan tanda tangan dari tokoh masyarakat maupun pemda. Dari 298 kabupaten dan kota yang disinggahi, tercatat, ada 3,9 juta tanda tangan dan 154 buku.

“Kalau sudah penuh, buku saya kirim ke Indramayu,” ujarnya.

Ismail menghias sepedanya dengan tulisan keliling Indonesia yang ia tempelkan di depan keranjang. Lalu pada bagian belakang sepeda Ismail, berkibar bendera merah putih.

Sepeda yang dikendarai Ismail saat ini, adalah sepeda yang ke-33. Ismail harus rela menjual dan membeli sepeda baru agar dapat sampai ke tujuan. Sebab, medan jalan yang ia lalui tak selalu mulus.

“Kalau sepeda, ini sudah sepeda yang ke-33. Empat diantaranya pernah saya jual karena medannya yang tidak memungkinkan, sehingga saat sampai daerah tujuan baru saya belikan sepeda lagi,” ucapnya.

Ismail juga mengaku pernah mendapatkan pemberian sepeda dari Gubenur Timor-timur (sekarang Timor Leste) tahun 1989.

“Sepeda pemberian pak Gubernur Timor-Timur sangat nyaman dikendarai. Namun, sayang saya terpaksa menjualnya lantaran risih akan pandangan orang lain,” ucapnya.

“Waktu itu saya jual laku Rp100 juta lebih. sepedanya awet. Dengan naik sepeda, saya jadi tahu profil setiap daerah,” tambahnya.

Ismail juga menceritakan, saat mengelilingi Indonesia banyak kisah-kisah pahit yang harus diterima. Ia pernah menjadi tawanan di Papua lantaran menabrak seekor babi.

“Saya pernah ditawan di Papua selama dua hari karena menabrak seekor babi dan menyebabkan kaki babi itu terluka. Saya juga pernah kesasar dan pulang cukup lama, seperti pada tahun 2002 terjadi konflik di Sampit. Saat itu saya pulang setengah tahun menunggu suasana kondusif,” ungkapnya.

Untuk dapat berkeliling Indonesia, Ismail harus merogoh kocek sebesar Rp 300 juta. Uang tersebut ia dapatkan dari sponsor dan youtube.

“Pengeluaran naik sepeda lebih banyak karena lebih mudah capek dan haus. Uang tersebut saya gunakan untuk membeli makanan dan minuman. Saya menargetkan bulan Maret 2019, perjalanan keliling Indonesia selesai. Rute akhir di Bali sesuai awal perjalanan saya,” pungkasnya.

Ferry Kana, 4 Tahun Naik Motor Keliling Indonesia Sambil Memotret Keindahan Negeri

Ferry Kana, seorang rider yang sudah empat tahun keliling Indonesia menggunakan motor kesayangannya, sambil memotret keindahan Indonesia.

Mungkin tak banyak orang tahu nama Ferry Kana, seorang petualang dan fotografer. Ferry punya banyak pengalaman menarik. Sesi sharing Ferry Kana (Kanan) di panggung utama Kustomfest 2017.

Dirinya hadir di acara Kustomfest 2017 di Jogja Expo Center, Yogyakarta dan diminta untuk bercerita pengalaman berkeliling Indonesia dengan mengendarai motor kesayangan-nya.

Tidak tanggung-tanggung waktu yang dihabiskan Ferry, bukan hitungan hari atau minggu seperti kebanyakan orang melakukan perjalanan. Ia sudah berkeliling ke berbagai tempat di Indonesia selama empat tahun. Tempat-tempat yang dikunjungi di antaranya adalah Pulau Jawa, Bali, Lombok hingga Sumba.

Awal mula perjalanan

Di hadapan pengunjung Kustomfest, Ferry berbagi cerita perjalanan awal ketika ia terjun ke dunia riding.

Kisahnya dimulai ketika ia merasa penat dengan suasana pekerjaan yang terlalu monoton, itu itu saja setiap hari. Kehidupannya sebagai fotografer dianggap nya kurang memberikan kejutan-kejutan segar pada setiap prosesnya. Ia semakin merasa jenuh dengan keadaannya ketika itu.

Tak lagi kuat menahan penat, Ferry akhirnya coba “melarikan diri”. Ia mengubah dirinya dan juga kegiatan serta kebiasaannya sehari-hari. Ia beralih memikirkan sesuatu yang bisa dilakukannya dengan serius tetapi tidak menjadikannya monoton.

Riding itu dimulai dari hati, kalau saya dari melarikan diri pada kenyataan. Saya bosan sama kebiasaan yang ada di sekitar. Perlu untuk mengubah diri dan saya kustom sendiri kehidupan saya,” katanya.

Berbekal fotografi dan kecintaannya berkendara

Dulunya ia seorang fotografer. Kini, Ferry coba menciptakan dunia barunya. Bermodalkan keberanian tersebut, ia mulai berhenti dari keseharian yang dianggapnya membosankan dan mainstream.

Ia memutuskan untuk mencoba menggabungkan pekerjaan terdahulunya di dunia fotografi dengan hobinya berkendara. Akhirnya, ia cukup yakin untuk melanjutkan riding sekaligus memotret sejak 4 tahun yang lalu dengan rute berkeliling Indonesia.

Awalnya Ferry hanya melakukan perjalanan jarak dekat dengan motornya, menempuh waktu 2-3 hari saja. Tetepi seiring proses berjalan, ia mulai merasa nyaman dan terpikat dengan kehidupan seperti ini. Hingga akhirnya ia menambah waktu riding nya hingga berminggu-minggu dan berbulan-bulan.

Enggan hidup mainstream

Setelah merasa menemukan dunia yang cocok untuknya, Ferry semakin yakin dengan apa yang dilakukannya karena ia juga merasa senang dengan kehidupan yang ada sekarang.

Untuk itu, dalam prosesnya ia juga tetap menerapkan prinsip “enggan hidup mainstream”. Salah satu contoh yang ia ceritakan, ia lebih sering memilih lokasi-lokasi wisata yang jarang didatangi orang atau bahkan jarang diketahui orang.

Saat berkunjung ke Lombok beberapa waktu yang lalu misalnya, ia bercerita bahwa mayoritas orang akan memilih ke daerah Gili Barat yang memang sudah terkenal akan keindahan alamnya. Tetapi Ferry memilih memacu kendaraannya ke kawasan sebaliknya di daerah Gili Timur.

“Orang pergi ke Lombok cari Gili barat, saya cari Gili timur. Saya satu-satunya orang asing di sana. Mereka malah menganggap saya saudara, tinggal bagaimana kita membawa diri,” ungkapnya.

Pengalaman keliling Indonesia naik motornya

Aksi anti mainstream yang dilakukan oleh Ferry, bisa dibilang berbuah manis. Ia mengakui menemukan gaya hidup baru yang tidak monoton dan selalu memberi kejutan serta warna tersendiri dalam setiap perjalanannya.

Ia tidak hanya merasakan pesona Indonesia yang memang sudah tak diragukan lagi, tetapi lebih dari itu. Pengalamannya berkendara selama ini menjadikannya merasa lepas dan bebas.

Meski seringkali melakukan solo riding atau berkendara sendiri, ia tidak merasa kesepian karena setiap tempat dan komunitas yang didatanginya selalu menganggap dirinya bagian dari keluarga mereka sendiri.

Ini sedikit penampakan Ferry Kana dan motornya di berbagai tempat di Indonesia:

Ferry Kana mengendarai motor kesayangannya

Ferry tampak tersenyum saat mengendarai motor kesayangan yang sudah menemani nya berkeliling Indonesia selama bertahun-tahun. Motor yang dipakai Ferry adalah Royal Enfield dengan beberapa kustom yang dilakukannya sendiri, untuk menyesuaikan kondisi.

Bentangan laut tak jadi halangan, lanjut terus

Tidak hanya di satu pulau, Ferry berkendara menyeberangi pulau-pulau bersama motornya. Foto di atas adalah pengalaman Ferry ketika menyeberangi lautan bersama motornya ke Sumba. Ia mengaku harus berada di perahu kayu selama 8 jam.

Menikmati pesona Indonesia di berbagai tempat

Mengelilingi Indonesia tidak lengkap rasanya tanpa mengabadikan momen-momen indah di berbagai tempat di Indonesia. Sebagai seorang fotografer, Ferry banyak memposting gambar perjalanannya di akun Instagram miliknya. Foto di atas salah satunya, foto motor dan tenda tempatnya tidur berlokasi di puncak B29, Lumajang, Jawa Timur.