Explorer Maluku ke Pulau Pombo

Maluku merupakan salah satu provinsi di daerah timur Indonesia yang mulai dilirik wisatawan. Destinasi yang tidak kalah menariknya adalah wisata bahari. Karena Provinsi Maluku terbagi-bagi terbagi-bagi ke beberapa pulau, maka sepanjang batas daratan dan laut terdapat pantai. Rata-rata pantai di Maluku berpasir putih. Salah satunya yaitu Pantai Pulau Pombo. Pulau Pombo terletak di Kecamatan Salahhutu, Kabupaten Maluku Tengah atau secara geografis berada di antara Pulau Haruku dan Pulau Ambon.

Luasnya memang tidaklah terlalu besar hanya 4 km persegi saja, namun jika kalian berkunjung ke Pulau cantik di Maluku ini, maka beragam pesona alam serta ketenangan bisa kalian dapatkan. Pulau indah ini menyimpan berbagai keindahan alam baik darat maupun laut yang sangat menawan, belum lagi pulau kecil ini masih alami dan tak berpenghuni tentunya membuat nuansa liburan kalian akan sangat berkesan. Bagi kalian yang menggemari kegiatan menyelam, Pulau Pombo juga dikatakan sebagai salah satu spot snorkeling dan diving baru di Maluku yang mulai menarik minat penyelam baik dari dalam maupun luar negeri.

Pulau Pombo memiliki keanekaragaman hayati dan ekosistemnya yang cukup tinggi, oleh sebab itulah Pulau Pombo dijadikan sebagai kawasan konservsi baik daratan yang ditunjuk sebagai cagar alam maupun perairan yang mengelilinginya sebagai taman wisata alam laut.

Baca juga artikel berikut ini : Pulau Beras Basah Si Jelita Dari Bontang

Di pulau ini kalian bisa berenang, snorkling, menyelam, memancing, trekking, pengamatan burung, jalan kaki mengelilingi pulau, dan berbagai aktivitas wisata alam lainnya.

Daratan indah yang seakan megapung sendiri di tengah laut, dengan pasir putih dan warna air laut jernih membuat mata kalian terpukau akan keindahannya. Dengan predikatnya sebagai cagar alam dan taman laut, maka di sana kalian akan menukan beragam spesies hewan darat serta laut yang unik dan indah, dari sekian hewan di Pulau Pombo yang tentunya paling bisa kalian temukan adalah spesies burung pombo yang memang hidup di wilayah Maluku. Spesies burung ini terbang hilir mudik dengan jumlah yang cukup banyak.

Keindahan pulau ini juga cukup menakjubkan ketika air sedang surut. Daratan baru yang awalnya merupakan perairan dangkal perlahan mulai terlihat dan berubah menjadi pasir-pasir yang membentuk daratan. Area pulau dikelilingi oleh batu karang kecil dan besar serta atol dengan air sebening kristal. Ada banyak spesies ikan, kerang, dan rumput laut dibawah laut Pulau Pombo. Jika kalian datang ke pualu indah ini, maka hal wajib yang harus kalian coba adalah diving atau menyelam, Biota laut dan kekayaan alam yang terlihat disekitar Pulau Pombo akan membuat kalian takjub. Karena keindahan bawah laut yang dihuni ikan berwarna-warni serta terumbu karang masih terjaga dengan baik.

Biasanya pulau ini digunakan sebagai tempat berkemah karena suasananya yang sangat cocok untuk mendirikan tenda. Di tengah pulau banyak pohon-pohon rindang yang bisa digunakan untuk berteduh. Jika ingin mengunjungi pulau berpasir putih ini, kalian harus datang pada saat musim sedang baik. Jika cuaca sedang buruk, banyak kapal nelayan yang tidak mau mengantar hingga ke Pulau Pombo. Hal ini dikarenakan ombak yang sangat besar bisa menerjang kapal kecil.

Baca juga artikel berikut ini : Explorer Maluku ke Museum Siwalima

Pulau Pombo merupakan sebuah pulau kecil yang tidak berpenghuni, keadaan alamnya masih sangat natural, sebab bagian hutannyapun masuk ke dalam hutan cagar alam. Oleh karena itu kalian tidak akan menemukan fasilitas apapun di sana, bahkan untuk papan penunjuk sekalipun. Sehingga untuk akomodasi wisata yang paling memungkinkan adalah kalian mendirikan tenda dan bermalam di alam terbuka Pulau Pombo yang sangat indah, atau pilihan lainnya kalian bia kemabali ke desa terdekat.

Begitu pula dengan makanan kalian sebaiknya membawa makanan sendiri jika berkunjung ke Pombo, namun perhatikan untuk membawa kembali sampah dari makanan yang kalian bawa. Jangan lupa juga untuk membwa persediaan air serta obat-obatan untuk penanganan darurat mengingat lokasinya yang terpencil dan cukup jauh dari desa berpenghuni terdekat.

Akses menuju pulau ini dari kota Ambon menggunakan kendaraan bermotor menuju ke Tulehu, sekitar kurang lebih 1 (satu) jam dilanjutkan dengan menggunakan speedboat menuju Pulau Pombo sekitar 15-20 menit dengan harga sewa berkisar antara 300-500ribu. Bisa juga dengan menggunakan perahu nelayan dari pelabuh

Explorer Maluku ke Museum Siwalima

Salah satu tempat yang bisa dikunjungi saat ingin mempelajari adat istiadat rakyat Maluku di Ambon adalah Museum Siwalima. Museum Siwalima terletak di kawasan Taman Makmur, Desa Amahusu, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Provinsi Maluku. Museum ini didirikan pada tanggal 8 November 1973, namun diresmikan pada tanggal 26 Maret 1977.

Walaupun obyek wisata yang satu ini merupakan tempat peninggalan benda-benda bersejarah, namun bangunan museum ini berada di atas bukit yang menghadap Teluk Ambon dengan keeksotisannya yang akan membuat kalian terpesona. Siwa yang diambil dari kata ulusiwa yang bermakna sembilan kerajaan dari wilayah selatan maluku ini berarti siwa adalah sembilan. Dan lima diambil dari kata patalima yaitu lima kerajaan dari wilayah utara maluku berarti lima adalah lima.

Dari dua kata tersebut, terciptalah satu arti baru Siwalima yang mewakili kekayaan sejarah, alam, dan budaya Maluku, tanah para raja-raja. Pertama kali yang akan kalian jumpai di Museum Siwalima adalah kata “usu mae upu” yang bermakna silakan masuk ini berada di pintu masuk. Awalnya Museum Siwalima hanya menyimpan sesuatu yang berbau adat istiadat dan seiring waktu berjalan, barulah tempat ini dijadikan dua bagian.

Museum Siwalima pertama berisi tentang semua hal yang berkaitan dengan kelautan, khususnya sejarah kelautan masyarakat Ambon. Tidak hanya benda-benda yang berkaitan dengan sejarah, tetapi juga berisi fosil-fosil binatang laut diantaranya adalah tiga fosil ikan paus yang sangat besar. Dan yang paling besar adalah ikan paus seukuran 23 meter.

Museum kedua atau Museum Budaya Siwalima berisi segala sesuatu atau benda-benda yang berbau sejarah budaya Maluku. Ada bangunan asli maluku, alat-alat pertanian, pakaian adat, uang lama, senjata khas, perlengkapan upacara adat dan guci-guci peninggalan penjajah Jepang.

Baca juga artikel berikut ini : Menjajaki Kaki ke Pulau Bair di Maluku

Semua koleksi yang berjumlah 5684 buah ini masih terjaga hingga detik ini. Bahkan, sesuai dengan aturan yang dibuat oleh pengelola Museum kamera dengan sinar blitz tidak diperkenankan memotret benda-benda seperti kain atau foto-foto yang sudah tua.

Banyak informasi yang akan diperoleh terkait kehidupan masyarakat Maluku dari masa ke masa. Ada jasa pemamdu bagi kalian yang ingin mendapatkan penjelasan yang lebih detail. kalian juga bisa melakukan permintaan khusus seperti demo pembuatan kain tenun, pementasan musik lokal dan tarian. Lokasi Museum Siwalima ini sangat indah, terletak di atas bukit yang menghadap ke Teluk Ambon. Memiliki jarak hanya lima kilometer dari Ambon. Sehingga kamu bisa melihat panorama teluk dari atas ketinggian.

Karena lokasinya ini, tempat ini menjadi tempat yang sempurna ketika ingin melihat keeksotisan teluk. Museum Siwalima buka setiap hari Selasa-Kamis pukul 08:00 – 14:00 WIT, hari Sabtu buka pada pukul 08:00 – 13:00 WIT, hari Minggu buka pada pukul 08:00 – 15:00 WIT, sedangkan setiap Hari Senin dan hari libur nasional museum ini tutup. Harga tiket untuk masuk ke Museum Siwalima Rp. 3000/orang untuk dewasa, Rp. 1.500/orang untuk anak-anak dan Rp. 1.000/orang untuk rombongan.

Explore Sukabumi ke Situ Batu Karut

Danau atau Situ Batu Karut terletak di daerah Kampung Batu Karut RT 3/RW 08, Desa Selawi, Kecamatan Sukaraja, Sukabumi, Jawa Barat. Danau ini membelah 2 kampung yaitu Kampung Batu Karut yang berada disisi timur, dan Kampung Pulopanggang disisi barat.

Dibalik nama Batu Karut ternyata memiliki cerita yang menarik. Menurut cerita orang sekitar, di areal tersebut dulunya ada sebuah batu yang terikat akar beringin dan ajaibnya akar beringin ini bisa mengangkat batu itu keatas kurang lebih 1 meter.

Dalam bahasa sundanya “Batu anu dikarut ku akar” yang artinya “Batu yang diikat dengan akar”. Maka kampung tersebut dinamakan Kampung Batu Karut. Tapi sekarang batu yang di ikat oleh akarnya itu sudah tidak ada.

Danau ini awalnya hanya terdapat rumah-rumah dan tempat penggilingan beras. Kemudian setelah orang-orang yang tinggal disana pindah, tempat itu dijadikan tempat wisata Situ Batu Karut atau Danau Batu Karut.

Baca juga artikel berikut ini : Explore Sukabumi ke Pantai Ujung Genteng

Saat weekend dan hari libur, banyak orang yang berolah raga ataupun berekreasi disini, dan juga ada yang sambil memancing ikan. Ditempat ini terdapat perahu bambu atau rakit yang biasa digunakan untuk memancing ikan. Selain untuk memancing, perahu atau rakit tersebut bisa juga dipakai untuk sekadar bermain-main ketengah danau.

Jernihnya air yang keluar dari mata air disana membuat Dinas Perairan Kabupaten Sukabumi tertarik untuk menelitinya dan membuatnya menjadi sumber mata air bagi PDAM.

Yang menjadi tujuan utama orang berkunjung ke Danau Batu Karut atau ke Kampung Batu Karut adalah tempat pemandiannya bernama “Pancuran 7” yang berada di sebelah utara Danau Batu Karut. Pancuran 7 memiliki air yang sangat jernih yang langsung berasal dari sumber mata air.

Explore Sukabumi ke Pantai Ujung Genteng

Pantai Ujung Genteng di Sukabumi Jawa Barat merupakan salah satu deretan pantai selatan yang ada di Pulau Jawa. Di pantai ini kalian bisa menyaksikan keganasan ombak Samudra Hindia yang justru menjadi tempat bermain yang menyenangkan untuk para penggemar surfing.

Tempat ini adalah surganya para pecinta pantai yang suka menelusuri pelosok Indonesia dan pantai yang masih belum dikunjungi banyak orang. Pasir putih, pantai yang landai dan sunset cantik ada disini.

Pantai Ujung Genteng adalah kawasan wisata pantai di Indonesia yang terletak di semenanjung barat daya Pulau Jawa dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Merupakan surganya para wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam mulai dari Pantai, Konservasi, Air Terjun, Alam, Budaya, Geopark dan masih banyak objek wisata lainnya.

Tidak menutup kemungkinan para wisatawan akan tinggal beberapa waktu dilokasi ini untuk mengunjungi semua keindahan alam di Sukabumi Jawa Barat ini.

Pada dasarnya, Pantai Ujung Genteng memang memiliki pesona pantai yang cantik. Pantai ini memiliki pasir putih dengan garis pantai yang sangat panjang. Angin sepoi-sepoi lembut dan pasirnya yang putih bersih bakal membuat kalian betah berlama-lama di pantai ini.

Meski Pantai Ujung Genteng termasuk salah satu pantai selatannya Jawa Barat, tapi ombaknya tidak terlalu ganas berkat hamparan batu karang yang berdiri kokoh nggak jauh dari pantai. Jadi kalian bisa berenang atau bermain air sepuasnya, tapi kalian wajib waspada terhadap satwa laut semacam ubur-ubur atau bulu babi.

Baca juga artikel berikut ini : Explore Sukabumi ke Curug Bibijilan

Pantai Ujung Genteng memang dikenal sebagai pantai dimana banyak terdapat spesies penyu endemik. Penyu hijau merupakan jenis penyu yang paling banyak dijumpai di pantai ini.

Pilihan lainnya adalah menonton atraksi alami penyu bertelur di Pantai Pangumbahan yang letaknya nggak jauh dari Pantai Ujung Genteng dan sedikit tersembunyi dari keramaian. Penyu termasuk binatang pemalu dan ia akan menjauh jika kalian berisik waktu hendak melihatnya bertelur.

Di kalangan peselancar, Pantai Ujung Genteng ini cukup memiliki nama. Ada sebuah spot surfing di sekitar Pantai Ujung Genteng yang terkenal dengan “Ombak Tujuh” nya. Istilah itu merujuk pada lapisan ombak yang konon sering membentuk formasi tujuh baris secara bersamaan.

Pantai Ujung Genteng juga menjadi tempat menarik untuk menyaksikan sunset. Untuk yang suka memancing, di Ujung Genteng merupakan tempat yang cocok di mana ikannya cukup banyak dan bervariasi.

Ada banyak penginapan di Pantai Ujung Genteng, tinggal pilih saja yang sesuai dengan biaya Anda. Jika mau murah kalian bisa juga menginap di rumah penduduk yang disewakan dengan harga sedikit lebih di bawah tarif hotel, bisa ditawar pula. Untuk mengunjungi pantai ini kalian dikenakan biaya Rp. 10.000,-/orang (motor tidak dihitung).

Ada beberapa rute menuju Pantai Ujung Genteng yang bisa kalian pilih. Rute pertama adalah Jakarta-Ciawi-Cicurug-Cibadak-Pelabuhan Ratu- Cikembar-Jampang Kulon-Surade-Ujung Genteng dengan jarak tempuh sekitar 2,5 jam, itu kalo nggak terjadi kemacetan parah di sekitar Sukabumi. Sementara rute kedua bisa kamu ambil kalo berangkat dari Bandung, yaitu Bandung-Cianjur-Sukabumi-Jampang Tengah-Jampang Kulon-Surade-Ujung Genteng. Jarak antara Bandung-Pantai Ujung Genteng adalah sekitar 230 km dan bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 – 4 jam perjalanan.

Explore Sukabumi ke Curug Bibijilan

Sukabumi merupakan daerah dengan luas wilayah terkecil yang berada di kawasan Provinsi Jawa Barat. Namun walaupun termasuk ke dalam wilayah terkecil di Jawa Barat, Sukabumi mempunyai banyak tempat-tempat wisata yang menarik sekali untuk dikunjungi. Salah satu curug yang cukup terkenal di Sukabumi adalah Curug Bibijilan. Curug Bibijilan terletak di Kampung Lebak Nangka, Desa Kerta Angsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Orang Sunda tak asing dengan kata “bijil”. Bijil berarti “muncul”, sedangkan “bibijilan” berarti repetisi berarti “bermunculan.” Bibijilan ini untuk menggambarkan bagaimana wujud curug atau air terjun ini.

 

Curug Bibijilan berada di Kawasan Wisata Buni Ayu dan berketinggian kurang lebihr 100 meter. Sesuai namanya, air mengalir dari bebatuan kapur dan jika dilihat dari kejauhan seperti bermunculan dari batu-batu kapur dengan percikan memutih.

Ketika kalian sampai di kawasan Curug Bibijilan, kalian akan di sambut oleh hutan pinus yang berada di sekitar kalian. Belum lagi gemericik air yang terlihat seperti berwarna hijau tosca dari kejauhan. Curugnya bersih, teduh, airnya dingin dan deras. kalian akan melihat keberadaan kolam-kolam kecil yang nantinya mengarah ke aliran curug. Curug Bibijilan memiliki tingkatan atau undakan yang bisa kalian telusuri hingga tepat kebagian atasnya.

Pencinta olahraga ekstrim biasanya tidak akan melewatkan kesempatan untuk dapat melakukan flying fox dan panjat tebing di sini. Selain itu kalian punya pilihan lain yaitu bermain air atau berenang di kolam-kolam alami atau sungai-sungai yang mengalir jernih di bawahnya. Curug ini ternyata punya fungsi lain bagi masyarakat sekitarnya.

Baca juga artikel berikut ini : Explore Sukabumi ke Curug Cikaso

kalian mungkin akan melihat keberadaan dari pipa-pipa panjang disekitar curug. Masyarakat mengalirkan air dari Curug Bibijilan untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Tapi air ini tidak mereka konsumsi karena dinilai kurang layak untuk kebutuhan tersebut.

Jika musim hujan tiba, Curug Bibijilan tidak diperbolehkan untuk dikunjungi karena debit airnya yang cukup tinggi dan deras. Curug ini sangat tepat dikunjungi selain musim penghujan. Biaya yang kalian harus keluarkan untuk memasuki lokasi wisata Curug Bibijilan sebesar Rp. 4000,- per orangnya, parkir kendaraan roda dua senilai Rp. 2000,- dan Rp.4.000,- untuk roda empat.

Untuk fasilitasnya, kalian tidak perlu khawatir, sudah ada mushalla, warung makan, toilet dan semacam tempat duduk untuk sekedar melepas penat kalian saat menempuh perjalanan.

Jika kalian ingin mengunjungi tempat wisata tersebut, dapat ditempuh dengan berjarak sekitar 40 km arah tenggara kota Sukabumi dan dapat dijangkau dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi dengan kondisi jalan beraspal dan sedikit berlubang.

Setelah setengah jalan menuju Sagaranten atau ditempuh selama 1,5 jam, di sebelah kiri jalan ada pos atau gapura bertuliskan Goa Buni Ayu PERHUTANI, lalu masuk ke dalam melewati kebun pinus sejauh 1,5 km menuruni bukit dengan jalan beraspal hingga tiba di pos penjagaan ke 2, di depan goa. Lokasi Curug Bibijilan ini tidak jauh dari pos ke dua ini.

Explore Sukabumi ke Curug Cikaso

Mengunjungi sebuah air terjun merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri dengan alam. Di Sukabumi ada banyak curug atau air terjun yang bisa kalian kunjungi salah satunya ialah Curug Cikaso.

Air Terjun Cikaso berlokasi di Kampung Ciniti, Desa Cibitung, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Jika kalian melakukan perjalanan dari Kota Sukabumi, jarak yang harus ditempuh sekitar 110 kilometer dari Kota Sukabumi.

Nama aslinya sebenarnya Curug Luhur namun karena curug ini airnya berasal dari anak Sungai Cikaso maka kemudian banyak orang yang menyebutnya dengan Curug Cikaso. Curug Cikaso terbentuk dari tiga titik air terjun yang berdampingan dalam satu lokasi .

Di bagian bawahnya terdapat kolam dengan warna airnya yang hijau kebiru biruan yang dipengaruhi oleh ganggang yang ada dibawahnya. Membuat Curug Cikaso ini menjadi tempat wisata alam pilihan bagi masyarakat sekitar.

Air terjun ini terbilang unik karena lebarnya mencapai 100 meter sedangkan ketinggiannya hanya 30 meter. Dari ketiga air terjun yang ada di Curug Cikaso ini, masing-masing memiliki nama yang berbeda. Air terjun di sebelah kiri bernama Curug Asepan, air terjun disebelah tengah bernama Curug Meong dan disebelah kanan bernama Curug Aki.

Baca juga artikel berikut ini : Explore Kuningan ke Curug Sidomba

Ketiga curug tersebut merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Keindahan dan kesejukan suasana di sekelilingnya akan membuat setiap orang betah berlama-lama disini. Dua aliran curugnya nampak secara jelas sedangkan yang satunya lagi agak terhalang oleh tebing.

Apabila hendak berkunjung ke lokasi ini, disarankan untuk datang pagi hari. Hal tersebut dikarenakan ada satu keistimewaan di air terjun ini apabila bisa berkunjung pada pagi hari. Para pengunjung akan disuguhi pemandangan bias sinar matahari yang baru terbit.

Bias tersebut akan sangat jelas terlihat dari butiran-butiran halus cipratan air terjun tersebut. Sangat disayangkan apabila keindahan ini sampai terlewatkan, terutama bagi para wisatawan yang hobi memotret. Keindahan momen tersebut merupakan salah satu yang wajib diabadikan dalam bidikan kamera kalian.

Selain dapat menikmati keistimewaan momen tersebut, di lokasi ini pengunjung juga dapat menikmati kesegaran air terjun Curug Cikaso dengan mandi atau berenang di danau kecil yang terbentuk dari aliran air terjun tersebut. Untuk dapat masuk ke obyek wisata ini dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 2.000 per orang.

Untuk menuju lokasi Curug Cikaso jika ditempuh dari Ujung Genteng yang berjarak 30 kilometer sekitar satu jam lebih sedikit, sedangkan dari Jampang Kulon berjarak 15 kilometer dan 8 kilometer dari Surade atau setara dengan 20 menit perjalanan dengan kendaraan.

Jika kalian datang dari arah sukabumi ikutilah arah jalan yang menuju Ujung Genteng, rute tersebut akan melewati bebeapa tempat, persisnya seperti ini (Sukabumi – Jampang Kulon – Surade – Ujung Genteng). Disinilah letak Curug Cikaso yaitu posisinya di kiri jalan sebelum memasuki kawasan Surade persisnya di pertigaan (simpang tiga) jalan Cikaso.

Disinilah tempat parkir kendaraan wisatawan. Untuk menuju lokasi dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati pematang sawah dan ladang penduduk setempat dengan jarak tempuh sekitar dua kilometer menuju lokasi Curug Cikaso. Atau bisa juga menumpang truk pasir yang sering lewat menuju air terjun tersebut.

Alternatif lain dengan menyewa sampan masyarakat untuk menyusuri sungai Cikaso. Harga sewanya antara Rp 70.000,- sampai Rp 80.000,- dengan muatan sepuluh sampai dua belas orang dan bergerak menggunakan mesin diesel, beberapa perahu jukung (dayung) juga terlihat berjajar rapi disana. Sampan-sampan ini banyak terdapat di jembatan Cikaso. Sesampainya di daratan, dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 100 meter menuju Curug Cikaso berada.

Explore Kuningan ke Curug Sidomba

Curug Sidomba atau ada yang menyebutnya dengan nama Curug Cidomba merupakan sebuah obyek wisata yang terletak di kaki gunung Ciremai. Curug Sidomba menjadi kawasan wisata andalan Kabupaten Kuningan karena lokasi yang strategis dan akses jalan cukup baik. Curug Sidomba berada di Desa Peusing , Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

“Curug” diambil dari bahasa Sunda yang berarti air terjun, dan “Sidomba” dari nama binatang domba atau kambing karena di daerah ini banyak terdapat domba yang memiliki tanduk lebih dari dua. Namun, berdasarkan cerita dari masyarakat setempat, nama Sidomba ini muncul karena tempat ini dulu adalah tempat untuk memandikan domba. Selain itu, hutan di sekitar curug juga menjadi tempat penggembalaan domba (pangngonan).

Curug Sidomba (Cidomba) adalah curug buatan di sungai yang airnya jernih, dingin dan segar yang bersumber dari mata air gunung Ciremai. Air Terjun Curug Sidomba memiliki ketinggian hanya 3 meter.

Baca juga artikel berikut ini : Explore Kuningan ke Curug Ngelay

Yang menarik justru kondisi alamnya. Curug Sidomba diapit dua bukit yang masih perawan. Eksotisme pemandangan alamnya sangat menyejukkan mata. Tak heran banyak pengunjung yang datang hanya sekedar berfoto selfie untuk kenang-kenangan.

Curug ini memiliki banyak keistimewaan. Kalian akan terpikat dengan airnya yang cukup jernih, dingin, dan segar, yang bersumber dari mata air Gunung Ciremai, serta berbagai jenis ikan yang hidup di dalam air ini seperti ikan mas dan ikan Kancra Bodas.

Konon ikan Kancra Bodas di sini tidak bisa ditangkap, terbukti ketika airnya dikuras ikan-ikan ini menghilang dan tidak ditemukan. Selain itu, aturan yang sangat penting bagi pengunjung adalah tidak diperbolehkan memberi makan atau memancing ikan di area ini dan serta tidak diperbolehkan berkata kasar karena dipercaya akan ada akibatnya langsung.

Kalian juga bisa menemukan masjid megah di kawasan ini. Masjid tersebut memiliki satu menara Asma’ul Husna. Untuk menuju menara, kalian akan melalui tangga berjumlah 99 anak tangga, di mana dari menara kalian dapat menikmati bentangan keindahan alam di kaki Gunung Ciremai yang sebagian wilayahnya masih subur dengan pepohonan besar.

Untuk harga tiket masuk per orang dikenakan biaya Rp.10 ribu tanpa melihat usia. Sementara tiket masuk kendaraan tergantung jenis kendaraannya. Tiket motor ditarif Rp. 3.000, sementara tarif masuk kendaraan jenis sedan, jeep dan minibus dikenakan Rp. 7.000. Sedangkan jenis elf, bus dan truk bertarif Rp. 13.000.

Baca juga artikel berikut ini : Explore Kuningan ke Curug Payung

Berbeda dengan tempat lain yang mengharuskan mendaki terlebih dulu untuk melihat lokasi air terjun, disini kalian yang akan menikmati keindahan air terjun justru harus melewati turunan yang lumayan curam. Namun jangan khawatir karena pengelola wisata telah membuat anak tangga sebagai jalan untuk menunju lokasi air terjun.

Wisata ini berjarak 20 km dari Kota Cirebon atau 30 menit dari kota Kuningan atau dapat melalui beberapa rute: Jika dari arah kota Cirebon menuju Kuningan dengan mengambil arah ke kanan di tiga jalur alternatif, yaitu di Prapatan Bandorasa Wetan, Balai Desa Manis Lor atau Balai Desa Manis Kidul lewat Desa Sembawa dan Desa Peusing.

Bagi yang menggunakan angkutan umum dari arah kota Cirebon naik kendaraan umum elf/bus ke jurusan Kuningan, berhenti di Desa Manis Lor dan dilanjutkan naik angkutan roda dua. Jika dari arah kota Tasikmalaya atau Cikijing naik kendaraan elf/bus jurusan Cirebon lewat terminal Cirendang, berhenti di Desa Manis Lor dan dilanjutkan naik angkutan roda dua.

Explore Kuningan ke Curug Ngelay

Banyak yang menyebutkan bahwa Kabupaten Kuningan memiliki berbagai keindahan alam yang menakjubkan. Dari berbagai tempat wisata alam yang dapat dikunjungi ada satu tempat wisata alam yang lagi ramai dikunjungi oleh pengunjung yaitu Curug Ngelay. Lokasinya berada di Desa Begawat, Kecamatan Salajambe, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat.

Curug Ngelay adalah sebuah nama yang diambil dari bahasa Sunda yang artinya air terjun yang menetes. Tapi kata Ngelay sendiri biasa dipakai oleh masyarakat Sunda untuk istilah orang yang ngiler.

Istilah Ngelay dapat diartikan sebagai aliran air yang kecil dan tidak terlalu deras. Curug ini dinamakan Curug Ngelay, mungkin karena jika pada musim kemarau debit air di Curug ini relatif kecil.

Sehingga air yang turun pun hanya aliran-aliran kecil yang meluber di batuan tebing. Jika musim hujan, Air Terjun ini mempunyai debit air yang cukup banyak sehingga akan terlihat lebih menawan.

Baca juga artikel berikut ini : Explore Kuningan ke Curug Payung

Air terjun ini mempunyai ketinggian 130 meter dan lebar tebing batu sepanjang 200 meter lebih, bahkan membuat ingin menuruni tebingnya. Rasanya ingin berlama-lama di bawah curug yang benar-benar menakjubkan tersebut.

Tebing di Curug Ngelay seperti membentuk huruf b jika dari kiri. Kalian bisa menaiki undakan tebing yang tingginya sekitar 2-3 meter. Kalian bisa merayap naik tapi harus berhati-hati jika batuan licin apalagi ketika debit air cukup deras. Ketika sampai di atas undakan, kalian bisa berfoto diatas sana dengan latar belakang tebing yang indah.

Di aliran sungai dibawah air terjun, terdapat sebuah batu berukuran raksasa disebut “batu balandongan”. Kalian juga diperbolehkan untuk mandi dibawah curug. Tak sedikit kalian yang mandi dibawah Curug Ngelay karena mungkin airnya yang sejuk.

Walaupun curug ini berada tersembunyi di dalam hutan tapi banyak pengunjung dari luar sana berdatangan untuk mengunjungi Curug Ngelay bahkan beberapa bulan kebelakang curug ini sudah menjadi trend wisata dan ramai dibicarakan di media sosial.

Explore Kuningan ke Bukit Lambosir

Lambosir merupakan sebuah kawasan bukit di lereng Gunung Ciremai di Blok Lambosir, Desa Setianegara, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Nama Lambosir berasal dari nama daging bagian dalam yang memiliki rasa paling enak. Menurut pengelola, masyarakat menamai dengan kata Lambosir karena harapan akan lingkungan yang enak dan tenteram untuk ditinggali.

Bagi para offroader lokasi wisata ini mungkin tidak asing. Hanya mobil-mobil yang memiliki spesifikasi yang mumpuni untuk bisa kesana. Jalur yang ada disana cukup ekstrem untuk dinaiki oleh kendaraan biasa apalagi jika kendaraan yang dinaiki tidak memenuhi standar untuk bisa ngetreck di jalur-jalur pegunungan.

Banyak yang menyebut lokasi wisata ini dengan Yamaha Forest karena dulunya lokasi wisata ini adalah kawasan hutan konservatif yang digagas oleh Taman Nasional Gunung Ciremai ( TNGC ) dan yang menjadi sposnsor utama adalah Yamaha. Bukit Lambosir memiliki ketinggian kurang lebih 700 meter diatas permukaan laut. Beberapa hal yang menjadi daya tarik yang disuguhkan wisata alam Bukit Lambosir adalah lingkungan areanya yang sangat khas sekali dengan hutan.

Baca juga artikel berikut ini : Explore Taman Nasional Gunung Ciremai

Beberapa pemandangan yang bisa dinikmati diantaranya adalah pemandangan beberapa kota besar, seperti kota Kuningan dan Cirebon. Serta pemandangan alam yang begitu menakjubkan, seperti Gunung Ciremai, bukit-bukit, perkebunan, dan pematang sawah. Salah satu spot favorit yang cocok untuk kegiatan fotographi adalah batu yang cukup besar yang sekaligus menjadi icon wisata alam ini. Batu-batu disini sendiri menurut pengelola memiliki cerita tersendiri. Dimana menurutnya batu-batu tersebut mempunyai nama.

Terdapat saung atau pendopo untuk memfasilitasi setiap pengunjung yang ingin bersitirahat yang bisa gunakan pula untuk makan dan berkumpul. Selain itu terdapat fasilitas lainnya seperti toilet dan mushola. Selain dari pepohonan serta indahnya alam, beberapa satwa yang tinggal di sana juga ikut menambah keindahan alam. Sebelum menikmati suguhan menawan yang di miliki Bukit Lambosir kalian terlebih dahulu harus merasakan terjalnya perjalan menuju ke lokasi tersebut.

Untuk Jarak tempuhnya sendiri dari pemukiman warga jika menggunakan kendaraan baik roda dua ataupun empat yaitu sekitar 15 menit, sedangkan jika berjalan kaki waktu yang ditempuh adalah kurang lebih 40menit sampai satu jam. Selain untuk rekreasi, di area tempat wisata alam Bukit Lambosir ini bisa digunakan untuk camping atau kegiatan kemah. Disamping itu pihak pengelola pun menginjinkan untuk membuat api unggun.

Explore Kuningan ke Telaga Remis

Talaga atau Telaga Remis merupakan salah satu danau alami yang terletak di bawah kaki Gunung Ciremai tepatnya di Desa Kaduela, Dusun Binakarya, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan. Wisata alam ini sampai sekarang masih terjaga keasriannya mulai dari pepohonannya hingga beberapa talaga atau telaganya.

Nama Talaga Remis sendiri diambil dari salah satu binatang air yaitu “Remis” atau Kerang. Karena di danau ini binatang yang satu ini cukup banyak, sehingga dinamakanlah Talaga Remis.

Talaga Remis mulai dikelola sebagai tempat wisata sudah cukup lama yaitu kurang lebih 28 tahun. Beberapa fasilitas penunjang kenyamanan pengunjung yang dimiliki tempat wisata Talaga Remis ini diantaranya adalah Meeting Room, Gazebo, Musholah, Toilet, Kantin, Mini, Resto dan Area Parkir. Selain dari Talaga Remis, di area wisata ini terdapat 8 telaga lainnya yaitu : Talaga Buruy, Talaga Deleg, Talaga Leat, Talaga Leutik, Talaga Nilem, Talaga Tespong, Situ Ayu Salintang, dan Sumur Jalatunda.

Baca juga artikel berikut ini : Explore Kuningan ke Waduk Darma

Harga tiket masuk ke tempat wisata Talaga Remis ini relatif terjangkau, yaitu Rp. 10.000 untuk hari biasa, Rp. 15.000 untuk weekend. Bagi anda yang ingin menginap, di area wisata ini terdapat pula Cottage. Untuk harga perharinya dikenakan tarif Rp. 250.000 (Sudah termasuk listrik, air dan kebersihan). Untuk pembayaran bisa menggunakan Debit, jadi tak perlu khawatir jika tidak membawa uang cash.

Dari pusat Kota Kuningan adalah 37 km. Jika dari Cirebon sekitar 13 km, tempat wisata ini berbatasan dengan Kabupaten Cirebon tepatnya dengan Desa Cikalahang. Jika Anda dari Jakarta, bisa menggunakan bus atau kereta api. Bagi pengguna angkutan umum dapat menggunakan bus jurusan Jakarta – Cirebon turun di depan Pasar Cilimus. Dari sana dilanjutkan menggunakan angkutan umum menuju Mandirancan lalu Pasawahan. Perjalaan dilanjutkan ke lokasi wisata Talaga Remis. Jika menggunakan kereta api, naik KA jurusan Jakarta – Cirebon menuju Stasiun Kejaksan Cirebon. Dari Cirebon bisa menggunakan jasa travel.